Showing posts with label Chalin. Show all posts
Showing posts with label Chalin. Show all posts

Saturday, April 28, 2012

Titiek Puspa


Titiek Puspa, yang mempunyai nama asli Sudarwati yang diubah menjadi Kadarwati[dan terakhir diubah menjadi Sumarti (lahir di Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan, 1 November 1937; umur 74 tahun) adalah seorang musikus Indonesia.
Penampilan Titiek Puspa di Hotel Grage, Cirebon.
Nama lahir
Sudarwati
Lahir
1 November 1937 (umur 74)
Pekerjaan
Tahun aktif
1959 - sekarang
Situs resmi
Tanda tangan

Rekaman piringan hitamnya yang pertama dengan label GEMBIRA, berisi lagu Di Sudut Bibirmu, Esok Malam Kau Kujelang, dan duet bersama Tuty Daulay dalam lagu Indada Siririton, iringan musik Empat Sekawan Sariman. Pada pertengahan 1960, Titiek Puspa sempat menjadi penyanyi tetap pada Orkes Studio Jakarta. Saat itu Titiek Puspa banyak mendapat bimbingan dari Iskandar (pencipta lagu dan pemimpin orkes) dan Zainal Ardi (suaminya sendiri seorang announcer Radio Republik Indonesia Jakarta). Sebagai penyanyi yang mulai menanjak popularitasnya, Titiek belum menciptakan banyak lagu dalam albumnya, lagu-lagunya banyak diciptakan misalnya oleh Iskandar, Mus Mualim, ada juga Wedasmara. Barulah pada album Si Hitam dan Pita (1963) yang berisi 12 lagu tiap albumnya semuanya adalah ciptaannya sendiri dan menjadi populer saat itu, selain itu juga album Doa Ibu berisi 12 lagu, 11 lagu adalah ciptaannya dengan 1 lagu ciptaan Mus Mualim. Dari album Si Hitam, lagu yang semakin memopulerkan namanya adalah Si Hitam, Tinggalkan, Aku dan Asmara. Bisa juga dikatakan bahwa bersama album Si Hitam, album Doa Ibu adalah album yang legendaris karena berisi lagu-lagu Minah Gadis Dusun, Pantang Mundur, yang semakin menancapkan Titiek Puspa sebagai penyanyi dan pencipta lagu Indonesia yang baik.[Juni 2008]
Catharina Chandra/XI-S1/33
Wikipedia.com

Album Bob Tutupoly


Kegemaran Bob Tutupoly akan dunia tarik suara telah ditunjukkannya sejak kecil dan beliau mulai bernyanyi untuk mendapatkan uang jajan tambahan di masa remajanya. Saat duduk di bangku SMA, Bob diajak bergabung dalam Kwartet Jazz di RRI Surabaya oleh Didi Pattirane. Bersama Didi Patirane, Bob juga merekam lagu-lagu daerah Maluku, seperti Mande-mande, Sulie, dan Donci Bagici. Rekaman tersebut difasilitasi oleh perusahaan rekaman milik negara, Lokananta. Pada masa-masa itu, Bob juga diminta bergabung dengan Chen Brohers (Bubi Chen, Nico, Jopie Chen, dan Frans) untuk mengisi acara dansa kalangan atas. Bob Tutupoly pernah tergabung di dalam Band Bhinneka Ria bersama dengan Bubi Chen, Loudy Item, Award Seweileh, Marius Diaz, Hasan Alamudin, dan Yusmin. Band ini berhasil menjuarai festival band di Surabaya dan festival Band se-Jawa di Jakarta. Band Bhinneka Ria sempat bermain bersama Trio Los Pancos dan merekam lagu Oto Bemo, Kopral Jono, dll. bersama dengan Jack Lesmana pada tahun 1960. Ketika berkuliah di Bandung, Bob tergabung dalam grup Cresendo pimpinan Yongki Nusantara yang sering tampil di hotel, seperti Hotel Homman dan Bumi Sangkuriang serta beberapa klub malam kota Bandung. Pada tahun 1963, band The Riders meminta dirinya menggantikan vokalis mereka saat itu, Bill Saragih, yang bekerja di Thailand. Bersama The Riders, Bob dapat tampil di Nirwana Super Club, Hotel Indonesia sebanyak 15 kali dalam sebulan. Bob tidak hanya sering tampil di Hotel Indonesia, tetapi juga di TVRI dan tempat-tempat lain yang mengundangnya. Enteng Tanamal, pemimpin Band Panca Nada, mengajak Bob untuk merekam lagu-lagu Natal bersama Pattie bersaudara di Remaco. Selanjutnya, Bob pun mulai merekam berbagai lagu seperti Gunung Seribu Janji, Tak Mungkin Kulupa, Tiada Maaf Bagimu, dan Batu Nisan. Beliau tidak hanya tampil di dalam negeri tetapi juga di Malaysia, Singapura, dan Hongkong. Pada tahun 1966-1969, beliau meraih predikat sebagai Penyanyi Kesayangan Siaran ABRI. Selain itu, beliau juga dianugrahi golden records (piringan emas) karena hasil penjualan piringan hitamnya laku di pasaran. Pada tahun 1969, Bob Tutupoly pindah ke Amerika Serikat atas tawaran dari grup Venturas (grup yang berisi orang Indonesia dan bermarkas di Los Angeles) yang berjanji akan mencarikan produser dan melakukan rekaman di negara tersebut. Sayangnya kedua hal tersebut tidak terwujud dan Bob malah bekerja paruh waktu di Yamaha Buena Park dan bergabung dengan The Midnighters untuk bernyanyi di San Fransisco dan Los Angeles. Bob pun akhirnya berpindah ke Las Vegas untuk bernyanyi di klub malam dan kasino-kasino yang ada di sana. Di sana, beliau sempat merekam beberapa lagu seperti Hello LA dan Bye-Bye Birmingham yang tidak diedarkan[4]. Di kota ini pula, beliau bertemu dengan Haryono, Direktur Utama Pelita (anak perusahaan Pertamina) yang memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadi public relation dan penyanyi di Restoran Ramayana. Restoran itu merupakan restoran Indonesia yang didirika oleh Pertamina di New York dan berfungsi sebagai agen promosi wisata Indonesia. Bob pun pernah menduduki jabatan sebagai pemimpin restoran tersebut hingga akhirnya pada tahu 1976, beliau kembali ke Indonesia dan merekam lagu Widuri ciptaan Slamet Aryadi. Pada tahun 1978, Bob dan Grace Simon terpilih untuk menjadi wakil Indonesia dalam pertukaran artis ASEAN. Beliau juga menjadi pemenang pertama dalam Festival Lagu Populer 1980 dan mewakili Indonesia dalam Festival Internasional di Budakan Hall, Jepang. Beberapa album yang telah direkam oleh Bob adalah
   The Best Song Of Bob Tutupoly Widuri
   Album Nostalgia 2
   Album Cinta Nostalgia 2
Tembang Kenangan Pop Indonesia Vol 6 "Kerinduan"
Catharina Chandra/XI-S1/33
Wikipedia.com

Rekor Album Koes Plus



Dari informasi yang dikirim seorang penggemar Koes Plus, ternyata prestasi Koes Plus memang luar biasa. Pada tahun 1974 Koes Plus mengeluarkan 22 album, yaitu terdiri dari album lagu-lagu baru dan album-album "the best" termasuk album-album instrumentalia, yang dibuat dari instrument asli Koes Plus atau rekaman "master" yang kemudian diisi oleh permainan saxophone Albert Sumlang, seorang pemain dari group the Mercy's. Jadi rata-rata mereka mengeluarkan 2 album dalam satu bulan. Tahun 1975 ada 6 album. Kemudian tahun 1976 mereka mengeluarkan 10 album. Mungkin rekor ini pantas dicatat di dalam Guinness Book of Record. Dan hebatnya, lagu-lagu mereka bukan lagu ‘asal jadi’, tetapi memang hampir semua enak didengar. Bukti ini merupakan jawaban yang mujarab karena banyak yang mengkritik lagu-lagu Koes Plus cuma mengandalkan “tiga jurus”: kunci C-F-G.
Karena banyak jasanya dalam pengembangan musik, masyarakat memberikan tanda penghargaan terhadap prestasinya menjadi kelompok legendaris dengan diberikannya tanda penghargaan melalui "Legend Basf Award, tahun 1992.Prestasi yang dimiliki disamping masa pengabdiannya dibidang seni cukup lama, produk hasil ciptaan lagunya pun juga memadai karena sejak tahun 1960 sampai sekarang berhasil menciptakan 953 lagu yang terhimpun dalam 89 album. Prestasi hasil ciptaan lagu untuk periode kelompok Koes Bersaudara sebanyak 203 lagu (dalam 17 album),sedang untuk periode kelompok Koes Plus sebanyak 750 lagu dalam 72 album (Kompas,13 September 2001).
Salah satu anggota Koes Plus mengatakan bahwa mereka dibayar sangat mahal pada masa jayanya. Yon mengungkapkan bahwa pada tahun 1975 mereka manggung di Semarang. "Waktu itu pada tahun 1975, kami telah dibayar Rp 3 juta saat pentas di Semarang," kenang dia. Padahal, saat itu harga sebuah mobil Corona tahun 1975 kira-kira Rp 3,750 juta. Bila dikurs saat ini bayaran tersebut kurang lebih sama dengan Rp 150 juta.(Suara Merdeka, 4 Mei 2001)
Waktu itu, Rp 3,5 juta sangat tinggi, mengingat mobil sedan baru Rp 3 juta. Jika dikurskan dengan nilai uang sekarang, jumlah itu sama dengan Rp 200 juta sampai Rp 300 juta. Jumlah penonton melimpah ruah tidak seperti sekarang, kenang Yon. (Suara Merdeka, 23 Oktober 2001).
Setelah itu popularitas Koes Plus mulai redup. Mungkin karena generasi sudah berganti dan selera musiknya berubah. Koes Plus vakum sementara dan Nomo masuk lagi menggantikan Murry, sekitar akhir 1976-an. Koes Bersaudara terbentuk lagi dan langsung ngetop dengan lagunya “Kembali” yang keluar tahun 1977. Murry bersama groupnya Murry's Group juga cukup menggebrak dengan lagunya “Mamiku-papiku”. Tidak bertahan lama tahun 1978 kembali terbentuk Koes Plus. Lagu barunya, “Pilih Satu” juga langsung populer. Setelah itu keluar lagu “Cinta”, dengan aransemen orchestra, yang benar-benar berbeda dengan lagu Koes Plus yang lain. Kemudian populer juga album melayu mereka yang memuat lagu “Cubit-Cubitan” dan “Panah Asmara”. Tetapi Koes Plus generasi ini tidak lagi sepopuler sebelumnya. Walaupun, kalau disimak lagu-lagu yang lahir setelah 1978, masih banyak lagu mereka yang bagus.
Nasib Koes Plus kini sangat tragis. Seperti kata Yon suatu ketika bahwa Koes Plus hanya besar namanya tetapi tidak punya apa-apa. Ucapan ini memang pas untuk mewakili keadaan personel Koes Plus. Mereka tidak mendapatkan uang dari hasil penjualan kaset yang berisi lagu-lagu lama mereka. Tidak seperti para penyanyi/pemusik masa kini yang gaya hidupnya “wah” karena dari segi finansial pendapatannya sebagai penyanyi/pemusik cukup terjamin. Begitu juga bekas group-group tersohor seperti Beatles, atau Led Zeppelin, mereka hidup dengan enak hanya dari royalti kaset/VCD/CD/DVD yang mereka hasilkan. Sampai anak-anak dan istri mereka pun menikmati kelimpahan finansial ini.
Koes Plus hanya dibayar sekali untuk setiap album yang dihasilkan. Tidak ada royalti, tidak ada tambahan fee untuk setiap CD/kaset yang terjual. Maka tidak heran ketika tahun 1992 Yon harus jualan batu akik untuk menghidupi rumah tangganya. Sementara kaset dan CD lagunya masih laris terjual di Indonesia. Sekarang pun di usianya yang ke-63 Yon dan kawan-kawan (Murry beberapa kali tidak tampil karena sakit) membawa nama Koes Plus harus manggung untuk mendapatkan uang. Dengan sisa-sisa suara dan kekuatannya mereka harus menjual suara dan tenaganya. Yon memang tidak merasakan ini sebagai beban. Dia bersyukur lagunya masih dicintai orang. Tetapi kita prihatin mendengar kabar seperti ini.
Catharina Chandra/XI-S1/33
Wikipedia.com

Kiblat Musik Pop Indonesia


Dengan adanya tuntutan dari produser perusahaan rekaman maka group-group lain yang “seangkatan” seperti Favourites, Panbers, Mercy's, D'Lloyd menjadikan Koes Plus sebagai “kiblat”, sehingga group-group ini selalu meniru apa yang dilakukan Koes Plus, pembuatan album di luar pop Indonesia, seperti pop melayu dan pop jawa menjadi trend group-group lain setelah Koes Plus mengawalinya.
"Seandainya kelompok ini lahir di Inggris atau AS bukan tidak mungkin akan menggeser popularitas Beatles"
“Lagu Nusantara I” (Volume 5), “Oh Kasihku” (Volume 6), “Mari-Mari” (Volume 7), “Diana” dan “Kolam Susu” ( Volume 8) merajai musik pop waktu itu. Puncak kejayaan Koes Plus terjadi ketika mereka mengeluarkan album Volume 9 dengan lagu yang sangat terkenal “Muda-Mudi” (yang diciptakan Koeswoyo, bapak dari Tonny, Yon dan Yok). Disusul lagu “Bujangan” dan “Kapan-Kapan” dari volume 10. Masih berlanjut dengan lagu “Nusantara V” dari album Volume 11 dan “Cinta Buta” dari album Volume 12.
Bersamaan dengan itu Koes Plus juga mengeluarkan album pop Jawa dengan lagu yang dikenal dari tukang becak, ibu-ibu rumah tangga, hinga anak-anak muda, yaitu “Tul Jaenak” dan “Ojo Nelongso”. Belum lagi lagu mereka yang berirama melayu seperti “Mengapa”, “Cinta Mulia” dan lagu keroncongnya yang berjudul “Penyanyi Tua”. Sayang sekali di setiap album yang mereka keluarkan tidak ada dokumentasi bulan dan tahun, sehingga susah melacak album tertentu dikeluarkan tahun berapa. Bahkan tidak ada juga kata-kata pengantar lainnya. Album mereka baru direkam secara teratur mulai volume VIII setelah ditandatangani kontrak dengan Remaco. Sebelumnya perusahaan yang merekam album-album mereka adalah “Dimita”.
Pada tahun 1972-1976 udara Indonesia benar-benar dipenuhi oleh lagu-lagu Koes Plus. Baik radio atau orang pesta selalu mengumandangkan lagu Koes Plus. Barangkali tidak ada orang-orang Indonesia yang waktu itu masih berusia remaja yang tidak mengenal Koes Plus. Kapan Koes Plus mengeluarkan album baru selalu ditunggu-tunggu pecinta Koes Plus dan masyarakat umum.
Tahun 1972 Koes Plus sempat menjadi band terbaik dalam Jambore Band di Senayan. Semua peserta menyanyikan lagu Barat berbahasa Inggris. Hanya Koes Plus yang berani tampil beda dengan menyanyikan lagu “Derita” dan “Manis dan Sayang”.
Catharina Chandra/XI-S1/33
Wikipedia.com

Dari Koes Bersaudara menjadi Koes Plus



Dari kelompok Koes Bersaudara ini lahir lagu-lagu yang sangat populer seperti “Bis Sekolah”,“ Di Dalam Bui”, “Telaga Sunyi”, “Laguku Sendiri” dan masih banyak lagi. Satu anggota Koes Bersaudara, Nomo Koeswoyo keluar dan digantikan Murry sebagai drummer. Walaupun penggantian ini awalnya menimbulkan masalah dalam diri salah satu personalnya yakni Yok yang keberatan dengan orang luar. Nama Bersaudara seterusnya diganti dengan Plus, artinya plus orang luar: Murry.
Sebenarnya lagu-lagu Koes Bersaudara lebih bagus dari segi harmonisasi ( seperti lagu “Telaga Sunyi”, “Dewi Rindu” atau “Bis Sekolah”) dibanding lagu-lagu Koes Plus. Saat itu Nomo, selain bermusik juga mempunya pekerjaan sampingan. Sementara Tonny menghendaki totalitas dalam bermusik yang membuat Nomo harus memilih. Akhirnya Koes Bersaudara harus berubah. Kelompok Koes Plus dimotori oleh almarhum Tonny Koeswoyo (anggota tertua dari keluarga Koeswoyo). Koes Plus dan Koes Bersaudara harus dicatat sebagai pelopor musik pop di Indonesia. Sulit dibayangkan sejarah musik pop kita tanpa kehadiran Koes Bersaudara dan Koes Plus.
Tradisi membawakan lagu ciptaan sendiri adalah tradisi yang diciptakan Koes Bersaudara. Kemudian tradisi ini dilanjutkan Koes Plus dengan album serial volume 1, 2 dan seterusnya. Begitu dibentuk, Koes Plus tidak langsung mendapat simpati dari pecinta musik Indonesia. Piringan hitam album pertamanya sempat ditolak beberapa toko kaset. Mereka bahkan mentertawakan lagu “Kelelawar” yang sebenarnya asyik itu.
Kemudian Murry sempat ngambek dan pergi ke Jember sambil membagi-bagikan piringan hitam albumnya secara gratis pada teman-temannya. Dia bekerja di pabrik gula sekalian main band bersama Gombloh dalam grup musik Lemon Trees. Tonny yang kemudian menyusul Murry untuk diajak kembali ke Jakarta. Baru setelah lagu “Kelelawar” diputar di RRI orang lalu mencari-cari album pertama Koes Plus. Beberapa waktu kemudian lewat lagu-lagunya “Derita”, “Kembali ke Jakarta”, “Malam Ini”, “Bunga di Tepi Jalan” hingga lagu “Cinta Buta”, Koes Plus mendominasi musik Indonesia waktu itu.
Catharina Chandra/XI-S1/33
Wikipedia.com

Kontribusi Koes Plus



Latar belakang
Asal
Tahun aktif
Anggota
Koes Plus adalah grup musik Indonesia yang dibentuk pada tahun 1969 sebagai kelanjutan dari grup Koes Bersaudara. Grup musik yang terkenal pada dasawarsa 1970-an ini sering dianggap sebagai pelopor musik pop dan rock 'n roll di Indonesia. Sampai sekarang, grup musik ini kadang masih tampil di pentas musik membawakan lagu-lagu lama mereka, walaupun hanya tinggal dua anggotanya (Yon dan Murry) yang aktif.
Lagu-lagu mereka banyak dibawakan oleh pemusik lain dengan aransemen baru. Sebagai contoh, Lex's Trio membuat album yang khusus menyanyikan ulang lagu-lagu Koes Plus, Cintamu T'lah Berlalu yang dinyanyikan ulang oleh Chrisye, serta Manis dan Sayang yang dibawakan oleh kahitna
Catharina Chandra/XI-S1/33
Wikipedia.com

7 Lagu Indonesia yang Dinyanyikan Musisi Dunia


Sebagai orang Indonesia kita boleh berbangga, karena ternyata ada beberapa lagu karya anak bangsa yang disukai bahkan dinyanyikan oleh musisi dunia. Hal ini tentu membuktikan bahwa kemampuan musikalitas musisi Indonesia ternyata tidak kalah dengan musisi dunia. Meski lagu-lagu tersebut memang mengalami perubahan seperti pada judul, tapi dengan mendengar nadanya, kita pasti ingat bahwa lagu itu adalah lagu Indonesia. Penasaran lagu Indonesia apa saja yang dinyanyikan oleh musisi dunia ? simak 7 Lagu Indonesia yang Dinyanyikan Musisi Dunia berikut ini ..

1. Cari Jodoh - Wali Band
Lagu ciptaan Apoy ini kembali dilantunkan oleh penyanyi pop asal negara Malta, Fabrizio Faniello yang pernah mewakili negaranya pada Eurovision Song Contest tahun 2001 dan 2006. Lagu “Cari Jodoh” ini pun berubah judul menjadi I No I Can Do saat dinyanyikan penyanyi berusia 30 tahun itu. Sebelumnya ada kesalahpahaman yang beredar bahwa Fabrizio Faniello melakukan plagiat terhadap lagu milik band asal pesantren ini. Namun berita itu segera dibantah produser Fabrizio, Manfred Holtz. Pria asal Jerman tersebut mengatakan semua royalti tetap milik Wali, akan tetapi Fabrizio hanya mengubah lirik agar sesuai dengan lagu Wali namun tetap enak dibawakan Fabrizio. Selain lagu “Cari Jodoh” ini ternyata Fabrizio Faniello juga tertarik membawakan kembali lagu Wali Band yang lain yaitu Baik-Baik Sayang.

2. Sephia - Sheila On 7
Sephia, Lagu yang bertemakan tentang perpisahan dari seorang peselingkuh dengan selingkuhannya ini dinyanyikan kembali oleh Qi Qin, penyanyi terkenal dari Taiwan. Namun lagu ciptaan Eros tersebut diganti menjadi Sophia. Dan ternyata pergantian itu bukan hanya dilakukan pada judulnya saja, melainkan juga pada liriknya. Lagu Sephia ini pernah menjadi Lagu Terbaik Kategori Pop Progressive serta Lagu Terbaik Kategori Best Of The Best pada ajang Anugerah Musik Indonesia tahun 2001.

3. Tak Bisakah & Di Belakangku - Peterpan
2 lagu milik band yang sedang vakum ini yaitu lagu Tak Bisakah dan Di Belakangku ternyata dijadikan soundtrack salah satu film di India yaitu Woh Lamhe. Dengan demikian, judul dan lirik lagu ciptaan Ariel Peterpan itupun diubah menjadi berbahasa India yaitu Kya Mujhe Pyaar Hai untuk lagu “Tak Bisakah” dan Aao Milo Chale untuk lagu “Di Belakangku”. Di Indonesia sendiri, lagu “Tak Bisakah” merupakan soundtrack untuk film Alexandria yang diproduksi tahun 2005. Lagu “Tak Bisakah” dan “Di Belakangku “ merupakan lagu-lagu pada album soundtrack Alexandria, dan album tersebut berhasil terjual sebesar 1 juta kopi.

4. Sempurna - Andra & The Backbone
Lagu berjudul “Sempurna” yang diciptakan Andra ternyata bukan saja pernah dinyanyikan oleh grup band Andra & The Backbone, tetapi lagu tersebut juga pernah dipopulerkan kembali oleh Gita Gutawa dengan gaya dan aransemen yang berbeda. Dan yang cukup membanggakan, ternyata lagu “Sempurna” itu pernah diminta oleh penyanyi asal Korea bernama Nicholas Teo untuk dimasukkan kedalam albumnya yang berjudul The Moment of Silence yang dirilis 5 Juni 2009 silam. Andra pun mengabulkan permintaan tersebut dengan mengubahnya kedalam bahasa Korea namun tetap dengan judul yang sama yaitu “Sempurna”. Beberapa waktu lalu pun ada kabar yang beredar bahwa lagu “Sempurna” ini juga  dinyanyikan sebuah grup band Jepang Shiroi Iro Wa Koibito no Iro.

5. Hingga Akhir Waktu - Nine Ball
Satu lagi karya anak negeri yang dibeli oleh penyanyi luar lainnya adalah lagu Hingga Akhir Waktu yang dinyanyikan oleh grup band Nine Ball. Lagu andalan band asal Bandung ini kembali dipopulerkan oleh penyanyi asal Filipina yaitu Christian Bautista. Judul lagu yang berisi tentang cinta mendalam dari seseorang terhadap kekasihnya itupun berubah menjadi Till The End of Time dan liriknya dialihbahasakan menjadi bahasa Inggris. Christian sendiri memang tidak asing lagi dengan dunia musik Indonesia. Selain proyeknya ini, Ia juga pernah berduet dengan penyanyi Indonesia lainnya yaitu Bunga Citra Lestari.

6. Bengawan Solo - Gesang
Di saat lagu keroncong bukan menjadi musik yang populer saat ini di masyarakat Indonesia, siapa sangka lagu keroncong berjudul “Bengawan Solo” justru terkenal di mancanegara. Lagu yang diciptakan maestro keroncong Gesang pada tahun 1940 ini telah dialihbahasakan ke versi bahasa Inggris dan dibawakan oleh Mona Fong, penyanyi kelahiran China. Selain itu lagu “Bengawan Solo” juga pernah muncul di film In The Mood For Love  besutan Wong Kar-wai pada tahun 2000.

Disamping itu lagu yang menceritakan sebuah sungai di Solo ini juga dinyanyikan oleh penyanyi jazz asal Jepang keturunan Brazil, Lisa Ono dengan begitu indahnya. Lagu yang diciptakan dalam waktu 6 bulan ini telah diterjemahkan setidaknya kedalam 13 bahasa antara lain Tionghoa dan Bahasa Jepang. Atas karyanya yang mendunia ini, Gesang tetap berhak atas royalti lagu “Bengawan Solo”.

7. Nina Bobo
Lagu yang sering disenandungkan saat seorang ibu pada anaknya yang akan tidur ini, ternyata telah dinyanyikan oleh penyanyi asing seperti Anneke Gronloh,Wieteke van Dort,  Li Xiao Mei dan yang terbaru adalah Claudia Patacca dan Gerrit Ellen dalam sebuah orchestra di Belanda. Menariknya adalah, karena lirik lagu ini dinyanyikan sama dengan lirik aslinya yaitu “Nina bobo..oh..nina bobo, kalau tidak bobo digigit nyamuk”. Sayangnya, sampai saat ini masih belum jelas siapakah yang menciptakan lagu tersebut, tapi yang jelas kata “Nina Bobo” lahir sebagai terjemahan dari Lullaby yang berarti lagu pengantar tidur.

Nah itulah tadi 7 Lagu Indonesia yang Dinyanyikan Musisi Dunia. Wah wah wah, ternyata musisi Indonesia juga tidak kalah kan dengan musisi dunia lainnya. Makin bangga deh sama Indonesia. Well, Bagaimana dengan anda ?
Catharina Chandra XI-S1/33

albabalpachino.blogspot.com