Showing posts with label Kevin. Show all posts
Showing posts with label Kevin. Show all posts

Friday, April 27, 2012

Petunjuk Gamelan


 Gamelan adalah musik yang tercipta dari paduan bunyi gong, kenong dan alat musik Jawa lainnya. Irama musik yang lembut dan mencerminkan keselarasan hidup orang Jawa akan segera menyapa dan menenangkan jiwa begitu didengar.
Gamelan, Orkestra a la Jawa
Gamelan jelas bukan musik yang asing. Popularitasnya telah merambah berbagai benua dan telah memunculkan paduan musik baru jazz-gamelan, melahirkan institusi sebagai ruang belajar dan ekspresi musik gamelan, hingga menghasilkan pemusik gamelan ternama. Pagelaran musik gamelan kini bisa dinikmati di berbagai belahan dunia, namun Yogyakarta adalah tempat yang paling tepat untuk menikmati gamelan karena di kota inilah anda bisa menikmati versi aslinya.
Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa, sebuah bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow, berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Perbedaan itu wajar, karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya.
Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.
Tidak ada kejelasan tentang sejarah munculnya gamelan. Perkembangan musik gamelan diperkirakan sejak kemunculan kentongan, rebab, tepukan ke mulut, gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam. Perkembangan selanjutnya setelah dinamai gamelan, musik ini dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang, dan tarian. Barulah pada beberapa waktu sesudahnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.

Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa alat musik, diantaranya satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang, rebab dan celempung, gambang, gong dan seruling bambu. Komponen utama yang menyusun alat-alat musik gamelan adalah bambu, logam, dan kayu. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan, misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending.

Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran, yaitu slendro dan pelog. Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil. Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yaitu terdiri dari beberapa putaran dan pathet, dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada.

Anda bisa melihat gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri maupun sebagai pengiring tarian atau seni pertunjukan seperti wayang kulit dan ketoprak. Sebagai sebuah pertunjukan tersendiri, musik gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi Jawa (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana). Pertunjukan musik gamelan yang digelar kini bisa merupakan gamelan klasik ataupun kontemporer. Salah satu bentuk gamelan kontemporer adalah jazz-gamelan yang merupakan paduan paduan musik bernada pentatonis dan diatonis.

Salah satu tempat di Yogyakarta dimana anda bisa melihat pertunjukan gamelan adalah Kraton Yogyakarta. Pada hari Kamis pukul 10.00 - 12.00 WIB digelar gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri. Hari Sabtu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring wayang kulit, sementara hari Minggu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring tari tradisional Jawa. Untuk melihat pertunjukannya, anda bisa menuju Bangsal Sri Maganti. Sementara untuk melihat perangkat gamelan tua, anda bisa menuju bangsal kraton lain yang terletak lebih ke belakang.
gamelan sound

Naskah: Yunanto Wiji Utomo
Photo & Artistik: Singgih Dwi Cahyanto
Copyright © 2006 YogYES.COM
Source: http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/performance/gamelan-show/

NewYorkarto, Aksi Hip Hop Campur Gamelan Konser ini memadukan budaya Yogyakarta dan New York.


VIVAnews--Menonton aksi hip hop dengan paduan musik gamelan dan string orkestra, mungkin masih jarang terjadi di Indonesia. Namun Jogja Hip Hop Foundation (JHF) akan segera mewujudkannya pada 27-28 April mendatang.

Kelompok musik hip hop asal kota Yogyakarta itu akan tampil di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Acara yang turut digagas oleh Djarum Apresiasi Budaya itu rencananya juga akan menampilkan Iwa K, Saykoji, Soimah, Ki Catur Kuncoro dan Butet Kartaredjasa.

"Ada 15 lagu yang dibawakan, 12 lagu kami, yang 3 punya Saykoji dan Iwa K. Ada juga beberapa lagu yang akan menjadi materi lagu baru kami. Ya mungkin kami biasa membawakan lagu dengan jumlah itu, 'deal-deal'-an dengan penari dan durasi itu yang lumayan capek jadi staminanya juga harus dijaga," kata Muhammad Marzuki founder sekaligus personel JHF di kawasan Kemang Jakarta Selatan, Kamis 19 April 2012.

Gagasan ini adalah hasil peleburan budaya dari dua kota yang bertolak belakang melalui musik. Dalam pentas ini terdapat perpaduan budaya Yogyakarta sebagai kota kelahiran JHF, berpadu dengan budaya New York, tempat berkembangnya musik hip hop. 

Awalnya, pria yang kerap disapa Juki alias Kill The DJ ini memang tak berniat terjun sebagai rapper, hingga akhirnya tahun 2003 dia membentuk JHF, kelompok hip hop asal Jogja yang kerap menggunakan bahasa Jawa dalam lirik lagunya.

Duo bersaudara Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto juga merasa wajib ikut terlibat dalam pementasan yang bertajuk 'NewYorkarto: Orang Jawa Ngerap di New York' itu.

"Saya tidak ingin jadi orangtua yang durhaka, jelek-jelek begini saya adalah aktor teater yang pernah disutradarai Kill The DJ. Saya ini hutang kebudayaan sama dia," kata Butet Kartaredjasa.

Konser ini akan menggambarkan perjalanan JHF sebagai salah satu kelompok musik hip hop dalam membangun mimpi dan idealisme bermusiknya, suka dukanya, juga pertumbuhan dan pencapaian musikalnya. Selain itu akar tradisi yang membentuk dan memberi mereka semangat bermusik hingga pergaulannya dengan musik hip hop dunia juga diceritakan di dalamnya.

Jogja Hip Hop Foundation memang telah mencicipi panggung musik hip hop dunia, yaitu di New York. Bulan September mendatang penyanyi 'Jogja Istimewa' ini akan keliling 5 kota di Australia, sementara pada November, JHF akan manggung di 10 kota di Amerika.

"Di atas panggung ada 30 orang musisi, tapi yang paling menarik bagaimana para rapper dengan bahasa Jawa memasukkan unsur jazzy, rock ke dalam ranah hip hop, saya masukkan kendang sunda, gitar, angklung, pokoknya dengan instrumen yang kita punya," kata Djaduk selaku music director konser ini. Sementara show director dikerjakan oleh Agus Noor.(np)

Untuk konser unik yang juga menampilkan wayang ini, tiket dibanderol mulai harga Rp100 ribu (balkon), Rp200 ribu (VIP), dan Rp300 ribu (VVIP).
Source: http://showbiz.vivanews.com/news/read/305958-newyorkarto--aksi-hip-hop-campur-gamelan

Musik yang digunakan dalam Wayang Kulit


Ada beberapa tipe musik yang digunakan dalam pertunjukan wayang kulit. Artikel ini akan membahas tipe-tipe musik tersebut.
Salah satu hal yang harus kita ingat adalah perbedaan antara musik/lagu yang terstruktur dan yang tidak terstruktur. Musik yang terstruktur memiliki sebuah beat yang dapat didengar dan dihitung. Dalam Wayang Kulit, beat ini disebut “gatra”. Saat para pemain musik dalam pertunjukan Wayang Kulit memainkan musik yang terstruktur, kita dapat merasakan bahwa mereka seperti sedang “berhitung”. Sedangkan musik yang tidak terstruktur tidak memiliki beat yang terasa, sehingga lagunya lebih terasa mengikuti perasaan, keinginan dan kemampuan para pemain musik. Walaupun lagu yang tidak terstruktur ini tidak memiliki beat, biasanya lagunya akan tetap terdengar cukup bagus atau ‘pas’.
Tipe musik/lagu terstruktur: Lagu-lagu terstruktur dibedakan lagi menjadi 2 tipe: regular dan irregular. Tipe regular memilki struktur permainan gong yang mudah ditebak, sedangkan tipe irregular memiliki struktur permainan gong yang berubah-ubah tergantung “gatra” yang ada.
Tipe musik/lagu tidak terstruktur: Lagu yang tidak terstruktur biasanya dikenali melalui instrumen musik yang digunakan dan fungsi instrumen tersebut. Umumnya, tipe tipe ini disebut ‘Sulukan’. Berikut penjelasan dari beberapa tipe:
  • Tembang atau Sekar. Lagu solo, dibagi menjadi dua tipe: Bawa, lagu yang berfungsi sebagai pembukaan lagu yang terstruktur, dan Andhegan, lagu yang dimainkan di tengah tengah sebuah lagu terstruktur.


  • Pathetan. Lagu ini biasanya dimainkan dengan gambang, suling, rebab dan seorang penyanyi solo. Dalam pertunjukan wayang kulit, lagu ini biasanya dimainkan sebagai pembukaan tiap bagian cerita tertentu, mengubah mood dan menyiapkan atmosfer untuk bagian cerita berikutnya.

  • Sendon. Mirip dengan Pathetan, tapi tidak dimainkan dengan rebab. Sendon biasanya dimainkan untuk mendramatisirkan adegan adegan dalam pertunjukan wayang kulit. Seperti lagu yang intonasinya sangat sedih digunakan untuk menggambarkan kesedihan para karakter wayang.

  • Ado-ado. Tipe sulukan yang paling sering digunakan dalam pertunjukan wayang kulit. Biasanya dimainkan dengan suling dan seorang penyanyi. Tipe ini dapat dianggap ‘tertancap’ pada ritme pertunjukan wayang kulit. Fungsinya seperti sebuah ‘perekat musikal’ yang menyambungkan tiap adegan. Struktur dramatis yang sering digunakan untuk pertunjukan biasanya adalah:(Lagu tidak terstruktur) - Ado-Ado – Narasi – dialog, dapat diulang berkali-kali atau dirubah rubah agar bervariasi dan dengan pelan pelan ‘membangun’ cerita dalam pertunjukan wayang kulit tersebut.
Kevin.S/XI-IS1/26

Gamelan


Gamelan Jawa terbagi menjadi dua laras atau tuning yang berbeda yakni laras Slendro dan laras Pelog. Laras adalah susunan nada-nada dalam satu gembyangan (oktaf) yang sudah tertentu tinggi rendah dan tata intervalnya. Laras Slendro terdiri dari 5 nada, sedangkan Laras Pelog dibagi menjadi 7 deret nada. Gamelan disajikan sebagai iringan wayang atau sebagai sajian karawitan bebas atau klenengan atau konser gamelan. Para penabuh gamelan disebut Niyogo, beberapa penyanyi wanita yang disebut Pesinden dan beberapa penyanyi pria yang disebut Wira Swara juga merupakan bagian dari suatu sajian gamelan untuk mengiiringi wayang atau klenengan.
Dalam sajian karawitan tradisi, ricikan kendang berfungsi sebagai pengatur atau pengendali (pamurba) irama lagu/gending. Cepat lambatnya perjalanan dan perubahan ritme gending-gending tergantung pada pemain kendang yang disebut pengendang.
Dalam tata iringan pakeliran gaya Jawatimuran peranan ricikan gender lanang atau gender penerus sangat penting, karena berfungsi sebagai penuntun atau membimbing laras atau tuning dalang dalam membawakan sulukan dan melakukan buka atau introduksi pada sajian gadhingan yang dikehendaki oleh dalang melalui sasmita tertentu, biasanya dengan dhodhogan mbanyu tumetes.


8.3. Nama Instrumen Gamelan dan Fungsinya
Rebab



8.3.1. Rebab
Rebab adalah instrumen (ricikan) gamelan yang bahan bakunya terdiri dari kayu, kawat (string), semacam kulit yang tipis untuk menutup lubang pada badan rebab (babat), bagian rebab atau badan rebab yang berfungsi sebagai resonator (bathokan), rambut ekornya kuda yang berfungsi sebagai alat gesek (kosok) namun untuk saat ini lazim menggunakan senar plastik, dan kain yang dibordir sebagai penutup bathokan. Cara membunyikan rebab dengan cara digesek dengan alat yang disebut kosok. Dalam sajian karawitan rebab berfungsi sebagai Pamurba Yatmoko atau jiwa lagu, rebab juga sebagai pamurba lagu melalui garap melodi lagu dalam gending-gending, melaksanakan buka atau introduksi gending, senggrengan, dan Pathetan agar terbentuk suasana Pathet yang akan dibawakan. Rebab juga berfungsi untuk mengiringi vokal yang dibawakan oleh ki dalang. Utamanya pada lagu jenis Pathetan dan Sendhon.
Kendang



8.3.2. Kendang
Kendang adalah instrumen gamelan yang bahan bakunya terbuat dari kayu dan kulit. Cara membunyikan kendang dengan cara dipukul dengan tangan (di-
kebuk atau di-tepak). Ukuran kendang Jawatimuran yang dipakai dalam pedalangan terdiri dari 3 (tiga) jenis kendang. Yakni kendang Gedhe, kendang Penanggulan (tradisi Jawa Tengah dinamakan ketipung), dan kendang Gedhugan (tradisi Jawa Tengah dinamakan kendang ciblon atau sejenis). Dalam sajian karawitan tradisi, ricikan kendang berfungsi sebagai pengatur atau pengendali (pamurba) irama lagu/gending. Cepat lambatnya perjalanan dan perubahan ritme gending-gending tergantung pada pemain kendang yang disebut pengendang. Hidup atau berkarakter dan tidaknya sebuah lagu atau gending itu tidak terlepas dari keterampilan serta kepiawaian seorang pengendang dalam memainkan ukel atau wiled kendangannya dalam mengatur laya atau tempo. Mengingat begitu pentingnya peranan ricikan kendang dalam tata iringan karawitan, biasanya seorang dalang membawa pengendang sendiri dalam setiap pementasannya. Dengan membawa pengendang sendiri seorang dalang akan lebih mantap dalam menggelar pakelirannya. Para dalang menganggap kendang adalah bagian dari belahan jiwanya ketika ki dalang menggelar pakelirannya. Seorang pengendang bawaan dalang (gawan) biasanya sudah memahami dengan baik selera atau keinginan ki dalang. Ibarat pengemudi ia memahami betul bagaimana selera tuannya.
Gender



8.3.3. Gender
Gender merupakan bagian dari perangkat
ricikan gamelan yang bahan bakunya terbuat dari logam perunggu, kuningan dan/atau besi. Sedangkan bahan yang paling bagus adalah yang terbuat dari perunggu. Gender dari bahan perunggu selain tampilannya menarik, bunyinya juga lebih bagus karena bahan tersebut mampu menghasilkan suara yang nyaring dan jernih bila perbandingan campuran logamnya seimbang, yakni antara tembaga dengan timah putih. Gender terdiri dari rangkaian bilah-bilah yang di sambung oleh tali yang disebut pluntur dan di topang oleh sanggan yang terbuat dari bahan logam, bambu, dan/ atau tanduk binatang (sungu) yang telah dibentuk sedemikian rupa sehingga terkesan serasi dan bagus. Untuk menghasilkan bunyi atau suara yang bagus dan tampilan indah, rangkaian bilah-bilah gender diletakkan di atas rancakan yang ditengah-tengah bagian bawahnya diberi bumbung (bahan dari bambu) dan atau logam (seng) yang berfungsi sebagai resonator. Bentuk dan ukurannya diwujudkan sedemikian rupa berdasarkan besar kecilnya bilah dan ditambah dengan asesoris serta ukir-ukiran pada rancaknya. Jumlah ricikan gender yang ada dalam seperangkat gamelan ageng terdiri dari 2 (dua) set, yakni Gender Barung (Babok) dan Gender Penerus (Lanang). Adapun larasnya terdiri dari gender laras Pelog yaitu Pelog barang dan Pelog nem (dua rancak) dan gender laras Slendro (satu rancak). Fungsi gender khususnya dalam tata iringan karawitan pakeliran gaya Jawatimuran adalah sebagai panuntuning laras agar ki dalang tidak kehilangan ngeng (suasana laras/nada dalam Pathet). Dan juga berfungsi sebagai pengiring sulukan dalang ketika sedang membawakan Sendhon, Pathetan, Bendhengan, maupun tembang. Di samping itu juga mempunyai peranan untuk membangun suasana kelir (adegan wayang yang sedang berlangsung), ketika mengiringi janturan atau pocapan melalui gadhingan yang di minta oleh dalang. Dalam tata iringan pakeliran gaya Jawatimuran peranan ricikan gender lanang atau gender penerus sangat penting, karena berfungsi sebagai penuntun atau membimbing laras dalang dalam membawakan sulukan dan melakukan buka atau introduksi pada sajian gadhingan yang dikehendaki oleh dalang melalui sasmita tertentu, biasanya dengan dhodhogan mbanyu tumetes.
Bonang



8.3.4. Bonang
Bonang merupakan bagian perangkat
ricikan gamelan yang berbentuk pencon yang ukurannya lebih kecil dari kenong. Bahan bakunya bisa perunggu, kuningan, dan besi. Dalam pengelompokanricikan gamelan, bonang termasuk dalam ricikan garap ngajeng, selain ricikan gender, rebab, dan kendang. Ricikan Bonang pada sajian karawitan utamanya untuk menyajikan gending-gending Bonangan atau Soran, dalam tabuhan tradisi karawitan Jawatimuran adalah penyajian gending-gending Giro dan Gagahan, serta juga berfungsi sebagai instrumen pembuka atau introduksi gending. Di dalam seperangkat gamelan jumlah boning ada 2 set yakni satu set bonang berlaras Slendro terdiri dari boning barung (babok) dan bonang penerus dengan jumlah pencon kurang lebih 12 bilah. Sedangkan laras Pelog dalam satu set terdiri dari boning barung dan bonang penerus, dengan jumlah 14 bilah pencon. Adapun teknik memainkan atau menabuh bonang dengan cara dipukul dengan alat pemukul khusus bonang. Teknik tabuhan terdiri dari (a) Gembyang yaitu cara memukul dua nada bonang yang sama secara bersama dengan jarak satu gembyang (oktaf). Contoh nada 6 atas dengan 6 bawah ditabuh secara bersama-sama. (b) Mipil yaitu teknik memukul nada bonang dengan cara satu persatu secara bergantian. Contoh 1 2 1 2 3 2 3 2 ditabuh secara bergantian antara tangan kiri dengan kanan. (c) Kempyung yaitu teknik memukul dua nada bonang yang berbeda dengan jarak 2 nada secara bersama. Contoh nada 5 dengan 1, nada 6 dengan 2 ditabuh secara bersama-sama. (d) Pancer yaitu teknik memukul satu nada boning lebih dari sekali secara terus menerus. Contoh 1 1 1 - 3 3 3 – dan seterusnya.
Slentem



8.3.5. Slentem
Slentem adalah bagian
ricikan gamelan yang berbentuk bilah seperti gender, namun ukurannya lebih besar yaitu panjang dan lebarnya. Jumlah slentem dalam satu perangkat gamelan ada 2 rancak yakni slentem laras Slendro dan slentem laras Pelog. Teknik tabuhan ricikan slentem dalam tata iringan karawitan terdiri dari mbalung, gemakan, paparan, dan pinjalan. Khusus teknik tabuhan slentem yang dinamakan gemakan dan paparan adalah yang ada pada sajian karawitan gaya Jawatimuran. Dalam tata sajian karawitan slentem berfungsi sebagai pamangku lagu.
Demung



8.3.6. Demung
Demung merupakan bagian
ricikan gamelan berbentuk bilah seperti saron tetapi ukurannya lebih besar, berfungsi sebagai pamangku lagu dalam sajian karawitan dan juga untuk tabuhan balungan gending. Dalam satu set gamelan jumlah demung minimal ada 2 rancak yakni demung laras Slendro dan demung laras Pelog. Dewasa ini dalam satu perangkat gamelan ageng jumlah instrument demung sering lebih dari satu set. Penambahan jumlah perangkat ini bertujuan ganda yaitu untuk membuat suasana tabuhan lebih ramai atau regeng, sehingga tujuan yang ingin di capai dalam penataan iringan bisa terwujud. Pada sisi yang lain, penambahan jumlah instrumen juga untuk menampilkan kesan kolosal atau semarak, sehingga semakin menarik penonton.
Saron



8.3.7. Saron
Saron merupakan bagian
ricikan gamelan berbentuk bilah dengan ukuran lebih kecil dari pada demung. Untuk iringan pakeliran wayang kulit Jawatimuran, minimal terdiri dari 2 set saron Slendro dan 2 set saron Pelog. Jumlah bilah saron Slendro untuk wayangan Jawatimuran ada 9 bilah, dengan urutan bilah nada di mulai dari nada 6 (nem) rendah atau ageng sampai dengan nada 3 (lu) tinggi atau alit. Dalam pedalangan Jawatimuran peranan saron sangat dominan, karena saron sebagai pembuat lagu atau melodi, terutama untuk bentuk gending-gending Ayak, Gedog Rancak, Krucilan, dan Gemblak/Alap-alapan. Posisi keberadaan saron di lihat dari aspek fungsinya dalam iringan pedalangan Jawatimuran bisa dikategorikan dalam kelompok ricikan garap, karena ricikan saron memiliki berbagai macam cengkok sekaran atau kembangan sesuai dengan Pathetnya. Dan sebagai tanda (tengara) bahwa tabuhan akan berganti Pathet, misalnya di dalam wayangan semalam suntuk ketika suasana Pathet Wolu akan berubah ke Pathet Sanga, maka kembangan atau cengkok saronan gending ayak Wolu menggunakan pancer 3 (lu). Adapun teknik tabuhannya meliputi teknik tabuhan mbalung, imbal, dan kinthilan yaitu khusus teknik tabuhan gaya Jawatimuran.
8.3.8. Saron Penerus (Peking)
Saron penerus atau peking merupakan bagian
ricikan gamelan berbentuk bilah yang ukurannya lebih kecil dari pada ricikan saron. Dalam sajian karawitan bebas atau klenengan atau iringan pakeliran khususnya gaya Jawatimuran saron penerus atau peking berfungsi sebagai timbangan, artinya mengimbangi bonang penerus dalam membuat melodi lagu, sehingga pengrawit menyebut teknik tabuhan saron penerus dengan sebutan teknik tabuhan timbangan.
Kenong



Kethuk



8.3.9. Ketuk dan Kenong
Ketuk dan kenong merupakan bagian
ricikan gamelan berbentuk pencon. Dalam sajian karawitan bebas atau klenengan maupun karawitan iringan, kenong dan ketuk berfungsi sebagai ricikan pamangku irama. Teknik memainkan ketuk dan kenong dengan cara dipukul dengan alat pemukul yang disebut tabuh. Adapun teknik tabuhannya meliputi teknik tabuhan nitir, yaitu teknik tabuhan kenong yang dalam satu sabetan balungan terdapat dua pukulan (thuthukan) atau pukulan dua kali, misalnya tabuhan kenong pada gending sampak, teknik tabuhan ngedhongi, plesetan, dan teknik kenong goyang.
Kempul



Gong



8.3.10. Kempul dan Gong
Gong merupakan bagian
ricikan gamelan berbentuk pencon. Rangkain instrumen gong terdiri dari kempul, gong suwukan, gong berlaras Barang, dan gong besar (ageng) yang ditata pada gayor yaitu tempat untuk menggantung kempul dan gong. Dalam sajian karawitan bebas dan iringan, gong berfungsi sebagai pamangku irama selain instrumen ketuk dan kenong. Sedangkan dalam iringan pedalangan gaya Jawatimuran berfungsi sebagai pemberi aksen yaitu tekanan berat dalam tabuhan khususnya adegan perang, terutama pada gending-gending Ayak, Krucilan, Alap-alapan atau Gemblak, dan Gedog Rancak.
Gambang



8.3.11. Gambang
Gambang merupakan bagian
ricikan gamelan yang terbuat dari bahan kayu berbentuk rangkaian atau deretan bilah-bilah nada yang berjumlah dua puluh bilah. Cara membunyikan gambang adalah dipukul dengan tabuh khusus gambang. Fungsi gambang dalam sajian karawitan sebagai pangrengga lagu. Dalam satu perangkat gamelan biasanya terdiri dari dua set gambang dalam laras Pelog dan Slendro.
Siter



8.3.12. Siter
Siter merupakan bagian
ricikan gamelan yang sumber bunyinya adalah string (kawat) yang teknik menabuhnya dengan cara di petik. Jenis instrumen ini di lihat dari bentuk dan warna bunyinya ada tiga macam, yaitu siter, siter penerus (ukurannya lebih kecil dari pada siter), dan clempung (ukurannya lebih besar dari pada siter). Dalam sajian karawitan klenengan atau konser dan iringan wayang fungsi siter sebagai pangrengga lagu.
Suling



8.3.13. Suling
Jenis instrumen gamelan lainnya yang juga berfungsi sebagai
pangrengga lagu adalah suling. Instrumen ini terbuat dari bambu wuluh atau paralon yang diberi lubang sebagai penentu nada atau laras. Pada salah satu ujungnya yaitu bagian yang di tiup yang melekat di bibir diberi lapisan tutup dinamakan jamangan yang berfungsi untuk mengalirkan udara sehingga menimbulkan getaran udara yang menimbulkan bunyi atau suara Adapun teknik membunyikannya dengan cara di tiup. Di dalam tradisi karawitan, suling ada dua jenis, yaitu bentuk suling yang berlaras Slendro memiliki lubang empat yang hampir sama jaraknya, sedangkan yang berlaras Pelog dengan lubang lima dengan jarak yang berbeda. Ada pula suling dengan lubang berjumlah enam yang bisa digunakan untuk laras Pelog dan Slendro. Untuk suling laras Slendro dalam karawitan Jawatimuran apabila empat lubang di tutup semua dan di tiup dengan tekanan sedang nada yang dihasilkan adalah laras lu (3), sedangkan pada karawitan Jawatengahan lazim dengan laras ro (2).
Kevin.S/XI-IS1/26
Source: http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/21/wayang-kulit-purwa-3-instrumen-musik-gamelan-jawa

GAMELAN DAN WAYANG MERAMAIKAN ACARA WOMAD 2012


Didukung oleh Kedutaan Besar RI Wellington (KBRI), New Zealand School of Music (NZSM) dan Asia Foundation of NZ, kelompok gamelan Padhang Moncar (Jawa) dan Taniwha Jaya (Bali) dengan guest artist Dr. Joko Susilo (Dalang) telah sukses berpartisipasi pada World Music and Dance (WOMAD) Festival 2012 yang digelar di Brookland Park, New Plymouth, New Zealand selama tiga hari pada 16 - 18 Maret 2012.

WOMAD merupakan festival tahunan musik dan tari terbesar di Selandia Baru, yang melibatkan puluhan etnik seni budaya dari berbagai negara termasuk Indonesia, negara-negara di Afrika, Solomon, Australia, India dan Korea Selatan. Selain penampilan musik dan tari, WOMAD juga menghadirkan bazaar kerajian dan makanan dari sejumlah negara.


Event yang berlangsung hingga tengah malam tanggal 18 Maret ini dihadiri sekitar 12.000 - 15.000 orang setiap harinya yang berdatangan dari berbagai wilayah Selandia Baru.
Indonesia antara lain menampilkan pentas wayang kulit berbahasa Inggris oleh dalang Dr. Joko Susilo yang diambil dari kitab Mahabarata dengan lakon Alap-alapan Brajadenta Brajamusti.
Sementara itu, pementasan “Tiger Wayang” yang juga merupakan kolaborasi wayang kulit dengan iringan gamelan Jawa dan Rabab Pasisir (Padangpanjang), menghibur anak-anak dengan cerita mengenai harimau Sumatera.
Kelompok gamelan Bali Taniwha Jaya juga tampil melalui kolaborasi dengan musik eletronik Minuts mempersembahkan pentas karya kontemporer.
Di sela-sela latihan dan persiapan untuk pentas di WOMAD 2012 di New Plymouth ini, Padhang Moncar juga menggelar pentas wayang kulit di Kelburn Normal School (KNS) yang dihadiri oleh 400 murid dan guru dari sekolah Kelburn Normal School dan Qlidequay School Wellington. Seusai pentas anak-anak mendapatkan kesempatan mengikuti workshop. (KBRI Wellington).
Wellington, 24 Maret 2012

Source: http://www.kemlu.go.id/wellington/Lists/EmbassiesNews/DispForm.aspx?ID=143

Gamelan Gambang Miliki Ratusan Gending


REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR - Gamelan gambang, salah satu instrumen musik tradisional Bali yang diwarisi masyarakat Bali secara turun temurun memiliki ratusan gending (pupuh), namun sebagian besar tanpa disertai teks.

"Gending-gending gambang yang lebih populer dengan sekar alit (macepat) hingga kini masih lestari dalam kehidupan masyarakat Bali, namun keberadaannya semakin langka" kata seniman andal Bali, I Wayan Sinti MA (69) di Denpasar, Selasa (24/4).

Mantan dosen pada University of Washington School of Musik Amerika Serikat yang juga penulis buku Gambang, cikal bakal karawitan Bali itu menambahkan, pihaknya pernah mengadakan penelitian tentang gamelan gambang di beberapat tempat di daerah ini.

Penelitian itu dilakukan di pusat dokumentasi Kota Denpasar, Fakultas Sastra Universitas Udayana, Desa Tenganan pegringsingan, Kabupaten Karangasem, Geria Taman Sari Sanur, Kota Denpasar, Desa Tangkas, Klungkung, serta Kerobokan dan Banjar Sempidi Tengah Kabupaten Badung.

Selain itu juga melakukan kegiatan yang sama di Banjar Gunung Pende Tumbak Bayu, Kabupaten Badung dan Padang Mulia, Kabupaten Buleleng, Bali utara.

Sinti menjelaskan, hasil penelitian di berbagai tempat itu menunjukkan, kesenian kuno yang disakralkan itu telah ada sejak abad XI masa pemerintahan Prabu Erlangga, raja yang memerintah Bali dan Jawa Timur selama kurun waktu 1019-1042.

"Seni budaya seperti seni sastra, seni bangunan dan seni kerawitan pada masa pemerintahannya berkembang pesat," tutur Wayan Sinti.

Demikian pula pembangunan bidang kesusastraan seperti candi juga berlangsung dari masa ke masa, seperti adanya banyak bangunan candi yang kokoh hingga sekarang di Jawa Timur.

"Begitu eratnya hubungan Bali dengan Jawa Timur dari masa ke masa selama pemerintahan Prabu Erlangga, tidak tertutup kemungkinan seniman Bali diboyong ke Jatim untuk membangun candi dan mengembangkan jenis kesenian lainnya," ujar Wayan Sinti.

Hal itu dapat dibandingkan dengan pembangunan Pura Semeru Agung di kaki Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jatim menjelang abad ke-20. Demikian pula pembangunan pura Gunung Salak di Bogor pada abad ke-21 yang secara umum keduanya diprakarsai seniman dari Bali, ujar Wayan Sinti.
Source: http://www.republika.co.id//berita/senggang/seni-budaya/12/04/24/m2ykqb-gamelan-gambang-miliki-ratusan-gending

Apa itu Gamelan


Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.
Kemunculan gamelan didahului dengan budaya Hindu-Budha yang mendominasi Indonesia pada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni asli indonesia. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini pada zaman Kerajaan Majapahit. Dalam perbedaannya dengan musik India, satu-satunya dampak ke-India-an dalam musik gamelan adalah bagaimana cara menyanikannya. Dalam mitologi Jawa, gamelan dicipatakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan.[rujukan?]
Gambaran tentang alat musik ensembel pertama ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah, yang telah berdiri sejak abad ke-8. Alat musik semisal suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, ditemukan dalam relief tersebut. Namun, sedikit ditemukan elemen alat musik logamnya. Bagaimanapun, relief tentang alat musik tersebut dikatakan sebagai asal mula gamelan.
Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu sléndro, pélog, "Degung" (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan "madenda" (juga dikenal sebagai diatonis, sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.
Musik Gamelan merupakan gabungan pengaruh seni luar negeri yang beraneka ragam. Kaitan not nada dari Cina, instrumen musik dari Asia Tenggara, drum band dan gerakkan musik dari India, bowed string dari daerah Timur Tengah, bahkan style militer Eropa yang kita dengar pada musik tradisional Jawa dan Bali sekarang ini.
Interaksi komponen yang sarat dengan melodi, irama dan warna suara mempertahankan kejayaan musik orkes gamelan Bali. Pilar-pilar musik ini menyatukan berbagai karakter komunitas pedesaan Bali yang menjadi tatanan musik khas yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Source: http://id.wikipedia.org/wiki/Gamelan

Alat alat gamelan yang digunakan orkestra Tunas Mekar


Gamelan Bali, adalah kumpulan instrumen musik tradisional yang digunakan di Bali (Gamelan dapat berarti orkestra). Instrumen-instrumen yang digunakan adalah beberapa ‘metallophone’ kecil yang terbuat dari tembaga, seperti gong, suling, dll.
Gamelan Angklung

Set instrumen utama milik orkestra Tunas Mekar adalah Gamelan Angklung. Alat-alat music tersebut dapat dilihat di gambar di samping.






Gong Semaradana


Tunas Mekar performs on the semaradana orchestra.
© 2003 Tunas Mekar, Inc. Photo by Holger Voemel
Set Orkestra Semaradana
dibeli oleh grup orkestra Tunas Mekar pada tahun 1999. Alat-alat ini dipahat dan dibenahi di Bali secara khusus untuk Tunas Mekar.

Semaradana merupakan semacam produk baru yang baru saja muncul dalam sejarah Bali. Semaradana unik karena mampu memasukkan sekumpulan ‘saih’ ke dalam satu orkestra.



Gender Wayang

Catur Eka Santi performs on the gender wayang. © 2006 Tunas Mekar, Inc. Photo by Bob Bellerue.

Gender wayang adalah kumpulan empat instrumen yang biasanya dimainkan saat ada pertunjukan Wayang Kulit.





Gong Kebyar

Gong kebyar adalah satu tipe orkestra gamelan Bali yang dibuat untuk pertama kalinya sekitar tahun 1914. Gong dalam nama “Gong Kebyar” dapat berarti instrumen musik gong, atau nama sebuah orkestra. Kebyar berarti untuk pecah menjadi suara atau cahaya. Instrumen instrumen dalam Gong Kebyar dibenahi untuk memainkan 5 skala not yang disebut pelog. Suara dan ukuran instrumen-instrumen gong kebyar jauh lebih besar daripada gamelan angklung.

Joged Bumbung

Joged Bumbung terdiri dari bambu-bambu yang diletakkan secara horizontal dan ditali ke sebuah kerangka yang terbuat dari bambu. Bambu-bambu ini kemudian dipukul dengan pemukul khusus yang dibuat dari Bambu dan karet.


Tunas Mekar performs balaganjur.
© 2005 Tunas Mekar, Inc. Photo by Rory Cowal.
Bala Ganjur

Bala Ganjur adalah kumpulan ceracap (ceng-ceng kopyak) yang dimainkan dengan drum dan gong.





Source: http://www.tunasmekar.org/orchestra.html