Showing posts with label Clauher. Show all posts
Showing posts with label Clauher. Show all posts

Sunday, April 29, 2012

Sandhy Sondoro


Sandhy Sondoro
Pria kelahiran Jakarta tahun 1973 ini mengawali karier bermusiknya sebagai pengamen jalanan di Jerman 16 tahun silam. Kebetulan kala itu ia tengah menempuh studi arsitektur di sana. Pengalaman itulah yang kemudian mengantarnya menjadi penyanyi kafe dan festival di Eropa.

Ia memiliki fans fanatik di Hamburg, Cologne, Stuttgart, dan sejumlah kota di Jerman. Ia juga pernah tampil di sebuah acara kontes musik televisi sukses di Jerman, Stefan Raab's Casting Show. Popularitasnya semakin menonjol saat lolos sebagai finalis Jerman Idol 2007.

Namanya mulai banyak dibicarakan di Indonesia justru ketika ia menjadi juara di ajang International Contest of Young Pop Singers New Wave 2009 di Latvia. Ia menjadi juara setelah membawakan sebuah lagu gubahan penyanyi idolanya Marvin Gaye, When A Man Loves A Woman, dan dua lagu ciptaannya End of The Rainbow dan Malam Biru. Lagu End of The Rainbow bahkan menjadi lagu terbaik di Rusia 2009.

Setelah merilis debut album bertajuk 'Why Don't We' di Jerman pada 2008, ia juga berhasil merilis album barunya di tanah air. Album itu bahkan berhasil  dipasarkan di Asia Tenggara. "Misi saya mendunia," katanya.

Java Jazz 2010 juga membuka kesempatan bagi Sandhy Sondoro untuk mengembangkan karirnya di Amerika Serikat. Penampilannya di ajang musik jazz internasional itu dilirik komposer dunia, Diane Warren.

Sandhy mendapatkan tawaran dari Dianne Warren untuk tampil di Palladium Theatre, Amerika Serikat, pada 7-8 April 2010 lalu. Saat itu, ia bahkan menjadi orang Asia pertama yang tampil di Palladium Theatre Amerika Serikat.

Dalam perhelatan Java Jazz Festival awal Maret 2010 lalu, Sandhy juga menjadi satu dari dua penyanyi Indonesia yang dipercaya menyuarakan keindahan karya Diane Warren. Secara bergantian, ia tampil bersama Dira J Sugandi, Eric Benet, Griffith Frank, dan Due Voci. Ia memukau penonton dengan lagu 'Nothing's Gonna Stop Us Now'.

Kini, lama tak terdengar kabarnya, Sandhy serius melanjutkan kariernya sebagai grup vokal Trio Lestari yang terdiri dari Glenn Fredly, Tompi dan Sandhy Sondoro. Pada 7 April lalu, mereka pun sukses mengawali konsernya di Semarang.

Sumber: http://showbiz.vivanews.com/news/read/308316-penyanyi-indonesia-terkenal-di-mancanegara

Bubi Chen, Tak Tergantikan


JAKARTA, suaramerdeka.com - Seberapa luar biasa warisan yang ditinggalkan seorang maestro musik jazz sekelas Bubi Chen bagi bangsa Indonesia? Apakah semata teknik permainan pianonya, atau karena keluwesannya sudi bekerja sama dengan sejumlah musisi dengan berbagai latar belakang musikal, yang membuatnya tak tergantikan. Menurut pemerhati musik Denny Sakrie keluarbiasaan Om Bubi -demikian dia menyapa Bubi Chen- yang meninggal Kamis (16/2) dalam perjalanan menuju RS Telogorejo dari rumah kontrakannya di Semarang, meninggalkan lubang yang besar bagi seniman dan penimat musik jazz di Indonesia.
Sebab, dalam catatannya, sebagai seorang seniman yang mengawali karir profesional sebagai musisi jazz pada tahun 1955 di kota Surabaya, Bubi mendedikasikan hidupnya secara penuh, tumpah, dan total kepada musik jazz hingga akhir hayatnya. Bahkan dalam gelaran Java Jazz 2012, sebagaimana rilis resmi panitia penyelenggara pada Kamis (16/2), nama Bubi Chen nasih menjadi salah satu "jualan" utama di gelaran tingkat dunia itu. Bahkan sebagai salah satu penulis di majalah tahunan Music yang merupakan majalah resmi Java Jazz, laporan utama tentang sepakterjang Bubi Chen telah usai ditulis Denny, dan siap diedarkan dalam waktu dekat ini.
Bubi yang dari bocah telah mahir memainkan berbagai nomor klasik milik Beethoven hingga Mozart, dikenal luas karena kemampuannya mengembangkan skill bermusiknya secara otodidak. "Bahkan dia melakukan khusus tutorial mengikuti kursus tertulis di Wesco School of Music, New York dan salah satu tutornya adalah Teddy Wilson," kata Denny di Jakarta, Jum'at (17/2). Theodore Shaw "Teddy" Wilson (1912 - 1986) adalah seorang pianis jazz dari Amerika, yang dikenal kerena kecanggihan menarikan jarinya di atas tuts piano. Dia mempunyai style tersendiri, sehingga kerap dilibatkan dalam berbagai proses rekaman oleh sejumlah musisi jazz besar dunia seperti Louis Armstrong, Lena Horne, Benny Goodman, Billie Holiday, hingga Ella Fitzgerald.
Bahkan jauh sebelum ngangsu ilmu kepada Teddy Wilson, Bubi sudah membuat sejumlah pemerhati dan kritikus musik jazz di mancanegara terheran-heran dengan bakat besarnya. Teristimewa, masih menurut Denny, ketika dirinya di bawah bendera Lokananta pada tahun 1958 merilis album, Bubi Chen Kwartet. Dari album inilah, nasib membawa musik Bubi ke berbagai belahan negara, yang kemudian diasup berbagai pemerhati musik, dan membuatnya mendapatkan kritikan positif. "Bahkan ada seorang kritikus jazz yang menyandingkan nama Bubi sejajar dengan nama Art Tatum, pianis jazz Amerika yang nyaris tidak pernah kehilangan satu not pun dalam permainannya," katanya. Padahal, imbuh dia, jenis permainan piano Bubi adalah swing dan bebop, yang notabene mempunyai tingkat kesulitan yang sangat tinggi.
Warisan dunia
Terlebih ketika pada tahun 1967 bersama Indonesia All Stars, yang beranggotakan Jack Lesmana, Maryono, Kiboud Maulana, Benny Mustapha dan kakaknya Jopie Chen, dibawa Tony Scott, seorang peniup klarinet yang tertarik dengan bakat besar Bubi, untuk unjuk kebisaan di Berlin Jazz Festival. Dari sinilah, pujian ditujukan kepada Bubi, dan ajakan tawaran masuk dapur rekaman akhirnya menghasilkan album legendaris berjudul,
Djanger Bali. Di album ini, sepenceritaan Denny sejumlah komposisi seperti "Ilir-Ilir", dan nomor standar "Summertime", yang dibawakan dengan warna Sunda dan Jawa, makin menghangatkan nama Bubi. "Jadi jauh sebelum para musisi jazz masa kini melakukan eksplorasi musikal, Om Bubi telah melakukan itu."
Atas alasan itulah, Bubi Chen sudah dapat dikatakan warisan dunia, bukan hanya Indonesia. Selain karena juga dia mempunyai kelenturan dalam berkolaborasi dengan seniman musik siapa saja. Bahkan pada tahun 1988 Bubi mau dan senang hati mengisi piano dalam salah satu singgel di album milik Doel Sumbang berjudul, Arti Kehidupan. Setahun kemudian, pada 1989 di album Kedamaian, dia bekerja sama secara musikal dengan tiga seniman karawitan. Dengan komposisi dua pemusik kecapi, satu seniman seruling dan Bubi sendiri memainkan piano. Pada album Kedamaian ini, berbilang tahun kemudian apa yang dilakukan Bubi kemudian dikenal dengan istilah etnik jazz. Tak ketinggalan pada 2005 Piyu "Padi" pada singgel berjudul "Elok" yang termaktub di album Padi juga melibatkan Bubi.
"Apa yang dilakukan Bubi bekerja sama secara musikal dengan siapa saja, menunjukkan dia welcome dengan siapa pun. Tanpa harus menghilangkan kejatidiriannya,"kata Denny. Contoh konkritnya, ketika pada 2004 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) dalam sebuah pementasan bertajuk "The Art of Duo", Bubi bersanding dengan Indra Lesmana, tepat tanggal 16 Februari, bebarengan dengan hari kepergian Bubi Chen, kemarin. Saat itu, sepenceritaan Indra Lesmana kepada Denny, Bubi Chen sudah nyaris tidak mampu mendengar apa-apa, kecuali ada alat bantu dengar yang menempel di telinganya.   
"Indra bercerita kepada saya, Om Bubi main pakai insting dan felling aja, tapi bener semua," katanya.
Senada denga Denny, Bens Leo pemerhati musik lainnya mengatakan, Bubi Chen adalah warisan Indonesia yang tidak tergantikan. Selain secara pribadi sangat ramah, katanya, permainan musiknya unik sekaligus luar biasa. "Dia bahkan dimasukkan sebagai enam besar pianis besar dunia," katanya merujuk salah sebuah majalah musik terbitan Amerika. Manusia seperti Bubi Chen, sebagaimana Jack Lesmana dan Embong Rahardjo, imbuh Bens, dalam kazanah musik Indonesia adalah warisan Indonesia yang membanggakan. Dan oleh karenanya pantas disebut sebagai manusia hebat.
 
Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2012/02/17/5498/Bubi-Chen-Tak-Tergantikan

Apakah smooth jazz itu ?


Banyak sekali perdebatan di kalangan masyarakat tentang smooth jazz. Kaum konservatif tidak menerima kalau smooth jazz layak disebut bagian dari jazz. Bahkan sumber yang saya cari di wikipedia, smooth jazz masih diragukan untuk dikategorikan sub-genre dari jazz. Setelah googling saya menemukan banyak hal tentang perdebatan ini. Contoh yang saya kutip di bawah ini.

Jazz- is an American musical art form created by musicians. It utilizes a swing feel, features improvisation and uses more complex rhythms and relies heavily on group interaction amongst its players. Similar to classical music, it is a more intellectual based music, digging deep into the musicality and complexity of notes/chords/rhythm/time. At one time (30s/40s) it was the popular music of that era. Today, unfortunately, it thrives mainly only in academia, and relies on education rather than record sales to drive its profits.
Smooth Jazz is a label created by radio, not musicians, to brand a style of instrumental pop/R&B music to create a genre that is based more on image and showmanship than on music content. It is simple, pop oriented, melodic, generally non-improvisational “feel good” music, that has almost nothing to do with Jazz. It is not a sub-genre of jazz, like Ragtime, Swing, Bebop, Cool, Avante Garde, or Post Bop, which are all sub-genre’s within the jazz genre, each depicting different eras.  Smooth Jazz is not one of the Jazz eras.
Unfortunately, there was a sort of in-between early version of smooth jazz in the last 70s/early 80′s. Grover Washington, David Sanborn, Spyro Gyra even Weather Report that still hung onto more of the roots of jazz. But when radio and record companies decided to turn it into a big money machine, they stripped out all the soul and content, and left us with the new age elevator music that is smooth jazz today.
Dari penjelasan di paragraf kedua dikatakan bahwa smooth jazz merupakan suatu bentuk musik populer yang dibentuk oleh radio. Bukan oleh para musisi, dan smooth jazz sendiri merupakan pop oriented dan tanpa improvisasi dimana jazz merupakan musik yang mengandalkan improvisasi.

European Jazz


Bentuk yang lebih tradisional Jazz Amerika berakar pada budaya Afro-Amerika, terutama blues, jazz Eropa menggabungkan elemen rakyat daerah sendiri serta akar yang kuat dalam musik klasik termasuk impresionis seperti Debussy, serialists seperti Berg dan seniman avant-garde seperti Varese.
Dari Skandinavia ke pengaturan pastoral Britania, Jazz Eropa membedakan dirinya dari gaya Amerika dengan spektrum yang lebih luas budidaya musik yang dapat disebut jazz. Mulai liar, dari jazz bebas sopan drummer Denmark Han Bennink ke sensibilitas pop ekonomis pianis Esbjorn Svensson; dari impresionisme abstrak pianis John Taylor ke jazz avant-garde dari gitaris Marc Ducret; dari gaya kreatif modern drummer Daniel Humair ke jazz ruang bebas dari Stephan Oliva / Francois Raulin; Jazz Eropa mewakili berbagai budaya yang lebih luas yang menerima keragaman yang lebih besar pada musik improvisasi.
Meskipun Jazz Eropa awalnya tumbuh dari sebuah penghormatan bagi pendamping Amerika selama bertahun-tahun, berkembang menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Bahkan genre umum seperti Jazz Gratis menerima perlakuan yang sangat berbeda, lebih cenderung ke arah abstraksi total; ada anarkisme agresif Brotzmann Petrus, sisi lembut dari Derek Bailey dan Evan Parker, dan ketidaksopanan lengkap Wolfgang Dauner.
Penonton lebih bebas dengan gaya Eropa.dengan daya tarik bagi banyak seniman jazz Amerika, termasuk Dexter Gordon dan Chet Baker, yang beremigrasi sana pada 1950-an. Sementara dunia telah menjadi tempat yang lebih kecil, keterbukaan Jazz Eropa dan penonton masih mendefinisikan sebagai entitas yang berbeda dan unik.

Soul Jazz


Soul jazzadalah pengembangan bop keras yang dimasukkan pengaruh kuat dari blues, Injil dan ritme dan blues dalam musik untuk kelompok-kelompok kecil, sering trio organ yang menampilkan organ Hammond. organis jazz Penting jiwa termasuk Bill Doggett, Charles Earland, Richard “Groove” Holmes, Les McCann, “Bruder” Jack McDuff, Jimmy McGriff, Lonnie Smith, Big John Patton, Don Patterson, Shirley Scott, Hank Marr, Ruben Wilson, Jimmy Smith dan Smith Johnny Hammond.
tenor saxophone dan gitar juga penting dalam jazz jiwa; jiwa tenor jazz termasuk Gene Ammons, Eddie “kejang mulut” Davis, Eddie Harris, Houston Person, dan Stanley Turrentine; gitaris termasuk Grant Green, Kenny Burrell dan George Benson. kontributor penting lainnya adalah saxophonists Alto Lou Donaldson dan Hank Crawford, terompet Blue Mitchell, dan drummer Idris Muhammad (ne Leo Morris).
Tidak seperti pukulan keras, jazz jiwa alur umumnya menekankan berulang, melodi, dan melodi kait. Jenis-jenis irama yang digunakan cenderung bervariasi juga. jazz Soul cenderung menggunakan alur catatan 8 (mirip dengan apa yang dikembangkan di rock dan R & B musik), sedangkan pukulan keras pada umumnya menggunakan irama shuffle, walaupun ada lagu jazz jiwa dengan irama shuffle dan lagu pukulan keras dengan mantap alur catatan 8 (meskipun yang kedua adalah arguably didefinisikan sebagai baik bop keras dan jiwa misalnya jazz [, Lee Morgan, The] Sidewinder).
Soul jazz dikembangkan pada akhir 1950-an, mencapai kesadaran publik dengan rilis The Cannonball Adderley Quintet di San Francisco, [1] [2] dan mungkin paling populer di pertengahan tahun 1960-an-ke-akhir, meskipun banyak artis jazz jiwa, dan unsur-unsur musik, tetap populer. Meskipun jazz “jiwa istilah” berisi kata “jiwa,” jazz jiwa hanya sepupu jauh musik jiwa, dengan asal-usulnya dalam Injil dan R & B daripada jazz.
Beberapa rekaman jiwa terkenal jazz Lee Morgan The Sidewinder (1963), Herbie Hancock’s Blewah Island (1964) (yang dipopulerkan selanjutnya ketika sampel oleh US3 pada Cantaloop), Horace Silver’s Song for My Father (1964) (dikutip oleh Steely Dan dalam mereka Rikki Jangan Lose Itu Nomor), Ramsey Lewis The Populer (1965), dan Cannonball Adderley’s Mercy, Mercy, Mercy (1966) (juga dipopulerkan lebih lanjut ketika tertutup sebagai lagu pop top 40 oleh Buckinghams).
Jazz Soul vernakular merupakan penyumbang utama terhadap evolusi Jazz-Funk pada tahun 1970an. Banyak musisi jazz melakukan jiwa pada 1960-an pergi ke pertunjukan jazz-funk di tahun 1970-an (misalnya, Grant Green, Jimmy McGriff, Herbie Hancock, dll). Salah satu cara untuk melihat jazz jiwa adalah sebagai jembatan antara pukulan keras dan jazz-funk. Soul jazz bersama dengan jazz-funk menjadi pengaruh penting pada acid jazz.

Fusion Jazz


 Music jazz adalah music yang sudah mendunia dan mempunyai banyak sekali aliran. Salah satu aliran music dari jazz adalah jazz fusion. Aliran jazz fusion, seperti namanya, adalah gabungan music dari jazz dengan berbagai jenis music lain. Banyak sekali aliran music yang dapat digabungkan dengan music jazz dan menciptakan jazz fusion yang sangat baik. Musik-musik seperti rock, electronic, funk, dan R&B kalau digabungkan dengan jazz akan menjadi sangat baik. Bahkan music pop, folk, dan juga music classic juga bisa bila digabungkan dengan jazz. Beberapa pemusik jazz fusion juga ada yang cukup berani untuk menggabungkan jazz dengan metal, ska, reggae, hip hop, dan juga music country.
Pada awalnya, tepatnya tahun 60an, jazz fusion mulai menggabungkan instrument elektrik rock dan juga soul serta blues yang ritmenya hampir sama dengan jazz. Mulai tahun 70an, jazz fusion berkembang sangat pesar dengan rock sebagai bahan fusion utamanya. Banyak sekali pemusik jazz fusion seperti Larry Coryell atau Billy Cobham. Bahkan album spectrum dari Billy Cobham adalah album jazz fusion yang paling laku dijual hingga sekarang.
Setelah itu, alirang funk mulai masuk kedalam jazz melalui Herbie Hancock. Bahkan Herbie Hancock diakui sebagai bapak music jazz-funk karena dalam jazz fusionnya, Herbie Hancock sangat sering mengeluarkan album jazz fusion. Sebut saja album crossing pada tahun 1972, album head hunters pada tahun 1973, serta album thrust pada tahun 1974. Bahkan Herbie Hancock juga dikenal sebagai pemusik jazz pertama yang menggunakan synthesizers sebagai salah satu alat musiknya.
Ketika memasuki era 1980an, jazz fusion mulai masuk ke arah yang lebih komersil. Pemusik seperti Lee Ritenour, David Sanborn, Bob James, Al Jarreau, dan juga Kenny G adalah para pemusik yang terkenal karena berhasil menggabungkan jazz dengan pop sehingga menciptakan music jazz fusion versi pop. Namun, jazz fusion versi pop ini lebih terkenal dengan nama smooth jazz. Hingga saat ini, Kenny G masih tetap produktif dan setia dengan aliran jazz fusion versi pop ini.
Dari pertama kali ditemukan, aliran jazz fusion telah banyak menghasilkan album-album berkualitas tinggi dengan banyak peminat. Contohnya album in a silent way yang diciptakan oleh Miles Davis pada tahun 1969. Lalu juga jangan lupakan album weather report pada tahun 1971 yang disuguhkan oleh grup band jazz fusion, weather report. Dari aliran jazz fusion versi latin, ada return to forever yang digawangi oleh Chick Corea meluncurkan album light as a feather pada tahun 1973. Jangan lupa karya Chick Corea yang lain yaitu Chick Corea elekric band pada tahun 1986 dan juga Eye of the beholder pada tahun 1987.

ERA SWING SEBAGAI "THE GOLDEN AGE OF JAZZ"


Dengan terjadinya depresi perekonomian dunia pada sekitar permulaan decade 1930 yang membuat keadaan perekonomian Amerika Serikat semakin berat, sebagai salah satu dampaknya adalah banyak lapangan pekerjaan menghilang sehingga menyebabkan tingkat pengangguran yang tinggi. Hal ini juga dirasakan dalam sejarah perkembangan musik jazz, termasuk industri rekamannya. Banyak musisi jazz juga seolah-olah terpisah dan menghilang begitu saja. Demikian juga dengan para pendengar setianya, mereka lebih banyak tinggal dirumah masing-masing sambil mendengarkan radio atau televisi daripada pergi menonton pertunjukan musik jazz di klab atau gedung pertunjukan lainnya.
Namun pada tahun 1934, seorang pimpinan band dan pemain klarinet yang bernama Benny Goodman memukau para pendengar radio dengan permainan musik jazz yang dibawakannya yang lebih "hot" daripada gaya-gaya jazz sebelumnya. Kelompok tersebut dalam bulan Juli 1935 mengadakan pertunjukan keliling di Amerika Serikat. Dari setiap penampilannya , terutama di radio dan televisi ternyata mendapat sambutan yang luar biasa dati para pecinta musik jazz. Hal ini semakin membuat optimis Goodman dalam menampilkan kelompok mereka dari ballroom ke ballroom yang lainnya dengan membawakan repertoar yang sedikit lebih manis dan diadaptasikan terhadap musik dansa. Dari mulai saat itulah, Benny Goodman bersama Quartetnya benar-benar "meledak", sampai akhir perang dunia II. Hal ini terjadi bersamaan dengan pulihnya keadaan peerekonomian di sana walaupun sedikit demi sedikit.
Dengan cepat musik jazz bergaya Swing menjadi sering dimainkan di seluruh negara tersebut, termasuk di hotel-hotel, klab malam maupun kampus dan gedung teater. Seorang kritisi dan fotografer, Bill Gottlieb menyebutkan masa tersebut sebagai "The Golden Age of Jazz". Mungkin pendapat tersebut cukup beralasan karena berbagai hal yang menunjukan dominasi musik jazz yang sedang menjadi trend yang popular pada waktu itu. Hal ini juga tergambarkan melalui banyaknya pendengar musik jazz lama dan "pendatang baru" yang tua maupun muda tetap berkumpul, termasuk penggemar musik jazz dari kalangan orang kulit putih bertambah besar jumlahnya daripada sebelumnya. Para "pendatang baru" tersebut juga lebih terdidik dan bahkan lebih fanatik. Mereka menggemari musik jazz seperti mereka menggemari permainan liga baseball atau basket. Dan sampai pada pertengahan 1930-an mulai banyak kelompok band yang bermunculan, disamping kelompok-kelompok big-band yang sudah ada sejak tahun 1920-an. Dan pada era inilah tampaknya jazz juga telah menjadi suatu gaya hidup, hal ini ditunjukan dengan banyaknya promosi produk-produk yang ditawarkan kepada masyarakat dengan embel-embel swing.
Lebih jauh mengenai gaya Swing ini aantara lain gaya ini mempunyai karakter "jazz 4 ketukan", karena gaya-gaya jazz sebelumnya dikelompokkan pada "jazz 2 ketukan". Dengan penjelasannya kira-kira adalah jika didalam gaya swing terdapat 4 ketukan di setiap barnya sedangkan dalam gaya jazz sebelumnya dapat didengarkan sebagian besar menggunakan 2 ketukan dalam setiap barnya. Namun hal ini juga belum menjadi harga mati, karena Louis Armstrong sendiri, serta beberapa musisi gaya Chicago, tidak jarang pula menggunakan tempo 4/4 dalam musiknya pada tahun 1920-an. Bahkan Big band dari Jimmy Lunceford secara bergantian menggunakan tempo 2/4 dan 4/4.
Kata "swing" sendiri adalah sebuah terminology dasar dalam musik jazz, meskipun ada dua pemaknaan yang berbeda mengenai "swing". Pertama adalah "swing" dikonotasikan sebagai salah satu unsure ritmik musik jazz yang berasal dari sifat struktur formal musik klasik namun dibuat lebih elastis dan fleksibel. Swing terdapat di dalam semua fase, gaya dan periode perkembangan musik jazz. Ada juga yang berpendapat bahwa jika sebuah musik yang tidak mengandung "swing": berarti musik tersebut bukan jazz. Mengenai hal yang berkaitan dengan konotasi ini yaitu "swing" sebagai salah satu unsur musik jazz, biasanya ditulis dengan huruf kecil didepannya yaitu swing. Kedua, isitilah "swing" ini digunakan untuk menyebutkan gaya musik jazz yang dominan di decade 1930-an. Gaya ini merupakan satu sukses besar dalam hal komersial diantara gaya-gaya musik jazz yang lainnya sampai muncul fusion pada era 1970-an. Seperti telah disinggung sebelumnya, Benny Goodman diberi gelar "The King of swing", berkaitan dengan keterangan itu kita sebut "Swing" dengan huruf besar didepannya. Kurang lebih dari dua pengertian ini banyak digunakan oleh segenap kritisi dan pendidik musik jazz dalam prakteknya. 
Ada sebuah perbedaan dalam mengatakan bahwa lagu jazz itu berirama swing dan itu adalah jazz bergaya Swing. Didalam setiap lagu jazz di dalam gaya Swing dipastikan itu juga berirama swing. Sebaliknya belum tentu setiap irama musik jazz yang mempunyai unsure swing dikatakan bergaya Swing.
Sebagai salah satu persembahan atas perkembangan musik jazz di era Swing ini adalah perkembangan kelompok big band seberti Bennie Moten Big Band, Jimmy Lucenford Orchestra, Count Basie Big Band dan Duke Ellington Orchestra. Dari masa ini juga muncul kontradiksi antara peran solois individu dalam sebuah big band untuk mendapatkan kedudukan yang penting dengan peran secara kolektif sebagai ungkapan harmonisasi yang lebih kuat. Namun musik jazz bisa jadi kolektif dan bersifat individu yang dilakukan secara bergantian, atau kemudian di dalam musik jazz dapat juga dilakukan imrovisasi secara bersamaan. 
Era ini juga melahirkan tokoh-tokoh besar dan penting dalam musik jazz yang kemudian akan mempengaruhi perkembangan musik jazz sesudahnya dan mempengaruhi para pemain-pemain jazz sesudah era ini. Mereka antara lain seorang pemain saxophone Coleman Hawkin, Chu Berry, Benny Carter dan Johnny Hodges, pemain drums Gene Krupa, Cozy Cole dan Sid Catlett, pemain piano Fats Waller dan Teddy Wilson, pemain trumpet Bunny Beringan dan Rex Stewart, juga para komposer dan pimpinan big band seperti Duke Ellington dan Count Basie. Tampaknya melalui era Swing inilah musik jazz mulai diperhitungkan dan banyak menyebar ke berbagai negara dan juga sebagai pijakan untuk perkembangan jazz selanjutnya, sehingga tidak berlebihan kiranya era ini disebut sebagai "The Golden Age Of Jazz".