Showing posts with label Felicia. Show all posts
Showing posts with label Felicia. Show all posts

Sunday, April 29, 2012

Berdedikasi Terhadap Jazz, Tompi Diberi Penghargaan


Berdedikasi Terhadap Jazz, Tompi Diberi Penghargaan




Kapanlagi.com - Dinilai mampu membangkitkan musik Jazz di Indonesia, sehingga digemari oleh seluruh lapisan masyarakat, Tompi mendapatkan satu penghargaan dari Dji Sam Soe pada hari Sabtu (5/6), saat tampil di Grand Swiss, BelHotel, Medan.
Di mana, pria yang lahir dan besar di Lhokseumawe tersebut mendapatkan penghargaan atas dedikasi dan kepedulian terhadap musik jazz di Indonesia yang langsung diberikan Hari Wibisono, selaku Brand Manager Dji Sam Soe, di hadapan ratusan penonton.
Menurut Hari, penghargaan yang diberikan pihaknya semuanya tidak terlepas atas dedikasi serta pengabdian Tompi, sehingga musik Jazz di Indonesia dapat bangkit serta dicintai.
"Kami memberikan penghargaan tersebut semuanya tidak terlepas hasil buah karya dari sosok Tompi terbilang luar biasa, terutama terhadap musik Jazz. Dapat kita pahami musik Jazz sangat sulit untuk diterima, khususnya di kalangan anak muda. Tapi dengan kehadiran Tompi di blantika musik Tanah Air, musik Jazz sudah dapat diterima serta bangkit saat ini. Sangat jarang ada musisi seperti itu," kata Hari.
Sedangkan Tompi yang ditemui KapanLagi.com mengatakan apa yang diberikan membuatnya tersanjung serta tidak dapat dibalas.
"Penghargaan yang diberikan membuat saya tersanjung. Bagaimanapun ini satu penghargaan tertinggi bagi yang tidak bisa dibalas, walaupun dari awal saya berkarir sudah mengenal Bapak Hari yang ternyata beliau memperhatikan saya. Jadi ini satu bonus besar bagi saya," kata Tompi.
Namun Tompi menolak jika dikatakan sebagai legenda musik Jazz di Indonesia, akan tetapi dirinya akan terus berusaha. "Saya bukan legenda, terlalu mahal bagi saya jika dikatakan sebagai legenda. Tapi saya akan tetap berjuang untuk musik," kata Tompi.


Penghargaan ECHO Award 2012 untuk 3 artis jazz dari ACT Music



24 Apr 2012

Tiga artis dari label ACT Iiro Rantala, Joachim Kühn dan Magnus Öström berhasil menyabet ECHO Jazz Award 2012 – penghargaan paling penting dalam dunia musik Jerman, demikian hasil pengumuman German “Phono Akademie”, insitusi yang mengurusi asosiasi industri musik atau IFPI / Bundesverband der Musikindustrie e.V.

Menariknya, pemenang kategori “pianist of the year, international” adalah pianist asal Finlandia, Iiro Rantala, lewat solo album “Lost Heroes” (ACT 9504-2) yang juga memenangkan penghargaan German record critics’ award tahun 2010 silam. All About Jazz memuji album ini sebagai superb tribute, a giant of an album.

Sementara penghargaan ECHO Jazz untuk “drummer of the year, international” jatuh kepada drummer asal Swedia Magnus Öström untuk album “Thread of Life” (ACT 9025-2). Öström dikenal luas dan sempat mampir ke Jakarta, karena tampil bersama trio tersohor, “e.s.t.”. Album ini punya makna spesial untuk Öströms karena ini adalah upaya kembalinya ke dunia musik setelah meninggalnya pianis  Esbjörn Svensson. Album “Thread of Life”, memiliki materi jazz, progressive rock, drum’n’bass dan minimalis musik.

Pianis Joachim Kühn tentu sudah tidak diragukan lagi diantara musisi penting dari German dan pernah menerima ECHO Jazz lifetime achievement award bersama saudaranya Rolf tahun 2011. Kali ini penghargaan untuknya adalah ECHO Jazz for “big band album of the year” untuk album “Out of the Desert Live” (ACT 9521-2), yang mendokumentasikan konser perayaan Joachim Kühn Trio dan Frankfurt Radio Big Band sewaktu Berlin JazzFest 2010.

ACT merupakan salah satu perusahaan rekaman penting dari German. Dalam kesempatan JazzAhead! 2012, Siggi Loch sang founder menerima penghargaan Škoda Award. Perannya dalam menjaga dan mengembangkan musik lebih dari setengah abad – mulai dari hobinya bermain drums hingga mengoleksi album dan akhirnya menjadi boss ACT – yang merayakan ulang tahun ke-20-nya tahun ini merupakan tokoh penting bagi dunia Jazz di Jerman dan Skandinavia, karena perhatiannya pada generasi jazzer muda.
 
Sumber: http://WartaJazz.com _ Indonesian Jazz News » Penghargaan ECHO Award 2012 untuk 3 artis jazz dari ACT Music.htm


Penyanyi Jazz Cantik, Sierra Soetedjo


Sierra Soetedjo adalah seorang pendatang baru dalam blantika musik jazz, yang mendalami vokal di WAAPA (Western Australia Academy of Performing Arts). Sierra juga sempat menjadi bintang tamu dalam album ke-3 Tompi My Happy Life dimana Sierra berduet dengan Tompi dalam lagu Love Letter. Sierra juga beberapa kali tampil di Java Jazz Festival ataupun duet dengan Katon Bagaskara untuk beberapa lagu Kla Project. Selain itu Sierra juga sering tampil di Salihara Community ataupun dalam Pitoelas Big Band.
Album debut Sierra ini berisikan lagu-lagu pop Barat yang diaransemen secara akustik, sehingga menjadi lebih easy listening, manis dan fresh. Lagu-lagu ini sangat sesuai dengan karakter vocal Sierra yang lembut, manja dan romantis. Yang menarik adalah lagu track pertama yang berjudul ‘The Only One’, sangat mengejutkan ternyata lagu yang indah ini diciptakan oleh Adi Bing Slamet, yang sebelumnya ada di album OST film Merpati Tidak Pernah Ingkar Janji. Selain itu, lagu Something yang sebelumnya dibawakan ala rock n roll oleh Beatles, diaransemen dalam versi akustik.
Lagu-lagu andalan yang juga tidak kalah menarik untuk disimak adalah Fallen, Lately, Save the Last Dance, Especially For You, Leaving On a Jet Plane, Have I Told You Lately That I Love You dan Thank You Love. Sebagai bonus track, Sierra berduet dalam lagu ‘Especially For You’ dengan penyanyi ballad dari Philipina, Jed Madela. Album ini sangat menarik untuk dijadikan koleksi.



Sun Ra, The Angel Race from Saturn


Sun Ra, The Angel Race from Saturn



Terlahir dengan nama Herman Poole Blount, lalu ia menggantinya menjadi Le Sony’r Ra dan dikenal dunia dengan nama Sun Ra. Pria berkulit hitam yang lahir pada 22 Mei 1914 di Birmingham, Alabama ini dikenal sebagai seorang komposer jazz, pianis, pemain synthesizer yang dikenal lewat komposisi musik dan performanya yang unik serta penulis puisi dan juga dikenal lewat filosofi kosmik-nya.
Tidak banyak yang tahu masa kecil Sun Ra, karena ia sendiri selalu mengelak ketika ditanya mengenai kehidupan pribadinya. Bahkan tak banyak yang bisa memastikan tahun kelahirannya.  Beberapa tahun sebelum kematiannya barulah orang-orang mengetahui tanggal persis kelahirannya, lewat seorang biographer bernama John F. Szwed yang mengatakan bahwa musisi ini lahir pada 22 Mei 1914. Dan ia juga sempat diberitakan memiliki hubungan kerabat dengan Elijah Poole (Elijah Muhammed) seorang pemimpin ‘Nation of Islam’.
Selagi kecil ia telah dikenal sebagai pianis handal. Bahkan di usia 11-12 tahun ia sudah mulai menciptakan lagu dan mampu membaca sheet music. Di pertengahan usia remaja, Sun Ra tampil pertama kalinya secara semi-professional sebagai solo pianist. Ia kemudian masuk Birmingham’s Industrial High School dan belajar di bawah bimbingan seorang guru handal, John T. “Fess” Whatley, yang berhasil mencetak sejumlah musisi professional.
Di tahun 1934 Ra untuk pertama kalinya ditawari pekerjaan dengan bergabung dalam band yang dibentuk oleh seorang guru Industrial High School Biology, Ethel Harper. Di sini ia mulai melakukan tur, namun karena sang guru akhirnya hengkang, Ra kemudian menggantikan posisinya dan nama grup ini diganti menjadi Sonny Blount Orchestra. Meski tidak mendapat penghasilan, mereka tetap mengadakan tur hingga akhirnya Ra kemudian mendapat pekerjaan tetap di Birmingham. Di tahun 1936 ia ditawari scholarship untuk masuk Alabama Agricultural and Mechanical University. Sempat menimba ilmu di jurusan music education dan mempelajari komposisi, orchestration,  dan teori musik hingga setahun kemudian ia dikeluarkan.
Dikeluarkannya ia dari kampus, diklaim oleh Ra karena ia sudah mulai memusatkan perhatian pada hal-hal yang berbau keagamaan. Sekitar tahun 1936-1937 Ra menceritakan bahwa ia mengalami pengalaman aneh. Dimana saat itu ia tiba-tiba dikelilingi oleh cahaya terang di sekitarnya dan mengatakan bahwa cahaya itu kemudian mengantarkannya pada sebuah tempat yang ia sebut, Saturnus. Sejak ini ia disebut sebagai “Angel Race” yang berasal dari Saturnus.
Sejak pertengahan 1950, Sun Ra kemudian memimpin “The Arkestra”, sebuah ensemble dengan line-up yang sering berubah-ubah. Tahun 1952 Ra secara resmi menggunakan nama Le Sony’r Ra. Karena menurutnya nama  Blount seperti nama budak dan ia tidak nyaman dengan itu. Ra sendiri berarti Dewa Matahari dari Mesir, dan ia sempat menggunakan beberapa nama selama karirnya, seperti Le Sonra dan Sonny Lee. Ia bahkan dengan ekstrim menolak segala sesuatu yang dikaitkan dengan nama lahirnya, dan menurutnya itu hanyalah sosok imajiner.
Meski kesuksesannya di jalur mainstream tidak seberapa, tapi Ra terbilang artis rekaman dan penampil live yang sangat produktif. Ia juga disebut sebagai musisi jazz yang kontroversial karena gaya hidup yang tak lazim dan musiknya yang sangat ‘memilih’. Ya, secara musikal Ra termasuk musisi yang memiliki karya-karya unik. Musiknya bervariasi, mulai dari musik yang diiringi dengan keyboard solo saja hingga big band yang melibatkan lebih dari 30 musisi. Sementara jazz yang ia pilih pun bervariasi ragtime, swing music, bebop hingga free jazz. Ia juga menjadi pionir electronic music, space music, dan free improvisation, dan menjadi salah satu musisi pertama yang tidak menghiraukan genre, karena menurutnya dengan begitu ia bisa menggunakan electronic keyboards-nya secara maksimal. Ra sering mengeksplore alat musik ini untuk memodifikasi sounds hingga menghasilkan musik yang unik. Live album-nya mulai dari akhir 1960-an hingga awal 1970-an menampilkan sound noisiest, dan suara unik lainnya dari keyboard. Musik seperti bebop, hard bop, dan modal jazz juga banyak mempengaruhi eksperimennya seperti yang terdapat di album Sun Ra Visits Planet Earth, Interstellar Low Ways, Super-Sonic Jazz, We Travel the Spaceways, The Nubians of Plutonia dan Jazz In Silhouette.
Ketika pindah ke Chicago, tepatnya setelah Perang Dunia II, Ra kemudian bekerja dengan penyanyi Blues Wynonie Harris dan membuat debut rekaman, “Dig This Boogie/Lightning Struck the Poorhouse” dan “My Baby’s Barrelhouse”/”Drinking By Myself;” “Dig This Boogie” yang menjadi rekaman pertama Ra dengan permainan piano solo. Teknik permainan piano Sun Ra cukup dipengaruhi banyak musik seperti boogie woogie, stride piano dan blues. Kadang ia bermain dengan style seperti Count Basie atau Ahmad Jamal, dan kadang seperti Thelonious Monk, hingga Cecil Taylor. Sun Ra juga menyebut musisi klasik cukup mempengaruhinya seperti Chopin, Rachmaninoff, Schoenberg dan Shostakovich sebagai komposer favoritnya.
Di tahun 1952 Ra sempat memimpin Space Trio dengan drummer Tommy “Bugs” Hunter dan saxophonist Pat Patrick dan mulai tampil secara tetap serta produktif menulis lagu. Ra lalu bertemu Alton Abraham dan membentuk independent record label dengannya di pertengahan tahun 1950, yang kemudian dikenal dengan nama ‘El Saturn Records’.
Tahun 1961 Sun Ra bersama beberapa teman musisinya di The Arkestra (Allen, Gilmore, dan Boykins) pindah ke New York City. Mereka sempat kesusahan mencari venue untuk tampil, hingga akhirnya di tahun 1966 the Arkestra menjadi pengisi tetap dalam Monday Night di Slug’s Saloon. Setelah pindah ke New York, Sun Ra bersama teman-temannya di Arkestra mulai menciptakan musik baru dengan multiple drummers dan pemain perkusi. Proses rekaman dan penampilan live mereka seringkali menggunakan kombinasi instrument yang tidak biasa dan juga seringkali melakukan improvisasi. Perlahan, mereka mulai meraih popularitas dan dikenal sebagai beat generation yang menjadi pengikut awal psychedelia. Di akhir tahun 1968 Sun Ra dan the Arkestra melakukan tur pertama mereka di US West Coast. Di tur ini sekitar 20-30 musisi dilibatkan termasuk dancer, penyanyi, fire-eaters, dan elaborate lighting. Setelah mengadakan konser di Perancis dan Jerman, serta Inggris di tahun 1970, the Arkestra mulai berkesempatan untuk tampil di luar Amerika dan menemui fans mereka yang tadinya hanya bisa mendengar mereka via rekaman. Di era ini, Sun Ra mulai memimpin permainan dengan gesture tangan dan tubuhnya, cara yang kemudian menginspirasi Butch Morris. Cukup banyak instrumen yang digunakan dalam grup ini seperti perkusi, saxophone, flutes, oboes, dan clarinets. Dan di masa ini Sun Ra menjadi musisi pertama yang mengunakan synthesizers dan electronic keyboards. Ra kemudian juga merilis The Magic City, Cosmic Tones for Mental Therapy, When Sun Comes Out, The Heliocentric Worlds of Sun Ra, Volume One, Atlantis, Secrets of the Sun dan Other Planes of There.
Menginjak awal 70-an Ra menjadi pengajar di University of California, Berkeley, dengan memberikan pelajaran yang disebut “The Black Man In the Cosmos”. Dan di tahun 1971 impiannya untuk tampil di Piramida Mesir terwujud bersama Arkestra. Ra yang juga identik dengan penampilan ala Mesir ini saat itu tampil bersama seorang drummer asal Mesir, Salah Ragab. Dan di tahun 1983  mereka merekam Sun Ra Meets Salah Ragab. The Arkestra tetap berjalan dengan rangkain tur mereka di era 1980-an hingga 1990-an. Bahkan setelah Ra terkena stroke di tahun 1990, ia tetap tampil di panggung, menciptakan musik dan memimpin Arkestra. Di akhir karirnya, Sun Ra sempat membuka beberapa konser untuk band asal New York, Sonic Youth. Tapi kondisi kesehatannya yang semakin menurun membuat ia tidak lagi bisa melanjutkan tur dan mempercayakan Gilmore sebagai penggantinya. Namun Gilmore sendiri tak begitu lama memimpin grup ini karena ia kemudian meninggal akibat emphysema yang dideritanya. Dan posisinya digantikan oleh Marshall Allen.
Saat sakit-sakitan ini Ra lalu kembali ke Birmingham dan berhubungan lagi dengan saudara perempuannya setelah hampir 40 tahun mereka tidak bertemu. Ra kemudian didiagnosa juga menderita pneumonia dan meninggal di kampung halamannya pada 30 Mei 1993 serta dimakamkan di Elmwood Cemetery, dengan tulisan di nisannya “Sonny Blount (aka [sic] Le Son’y [sic] Ra)”.


Sumber: http://www.uncluster.com/IN/profiles/sun-ra-the-angle-race-from-saturn/

KLA Project suguhkan jazz dan progresif di "Area 62"


KLA Project suguhkan jazz dan progresif di "Area 62"


Jakarta (ANTARA News) - Kla Project  akan menyuguhkan perpaduan musik jazz dan rock progresif dalam penampilan mereka di festival musik lokal Indonesia, "AREA 62", di Pulau Tengah, Ancol Eco Park Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta pada tanggal 19 dan 20 Mei.

"Selama ini kita punya tiga gaya aransemen musik. Nanti di AREA 62 akan kami campurkan, yang terbaik dengan gaya jazz, rock progresif bahkan dangdut," kata Katon Bagaskara yang mewakili Kla Project saat jumpa pers, di Jakarta, Kamis (26/4).

Katon mengungkapkan bahwa dalam setiap konsernya, Kla Project selalu menampilkan musik yang berbeda dari gaya orisinil CD namun esensi yang tidak diubah. "Kita akan 'improve', mengajak penonton berinteraksi," tambahnya.

Katon juga menyampaikan dukungannya terhadap festival musik yang akan didukung oleh 32 musisi Indonesia itu.

Ia menilai festival ini sebagai wadah bagi musisi Indonesia untuk berekspresi dan berinteraksi langsung dengan penggemarnya serta mendorong mereka untuk terus berkarya ditengah-tengah industri musik yang terancam oleh pembajakan.

"Ini semangat yang asik banget. Kita punya festival lokal musik 100 persen Indonesia, kebanggaan yang luar biasa," ujar Katon yang juga berharap festival ini menjadi daya tarik sendiri bagi orang-orang di negara tetangga untuk ikut menonton.

Kla Project merupakan salah satu pengisi acara dari deretan musisi-musisi lokal ternama di era '90-an hingga masa kini seperti GIGI, Glenn Fredly, /Rif, Kahitna, Naif, Java Jive, Maliq & d'Essentials, Project Pop, The Groove, Audy, The Changcuters, dan Sandhy Sandoro.

Tidak ketinggalan juga musisi indie seperti Gugun Blues Shelter, Pure Saturday, Efek Rumah Kaca, The Trees and The Wild, Project 9 (RAN + Soulvibe), The Extra Large, Jemima, Hightime, Rebellion, Legna, Storia, Drona, dan masih banyak lagi.
(M047)

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/307970/kla-project-suguhkan-jazz-dan-progresif-di-area-62

Andien


Andien
Andien yang bernama lengkap Andinie Aisyah Haryadi (lahir di Jakarta, 25 Agustus 1985; umur 26 tahun) adalah seorang penyanyi Indonesia yang beraliran musik Jazz.
Andien belajar bernyanyi sejak berusia tiga tahun. Saat duduk di bangku kelas 3 SD, Andien mulai mengikuti berbagai festival di lingkup tempat tinggalnya, Cilandak, Jakarta Selatan. Menginjak kelas 6, oleh Ibunya, Andien dimasukan ke EMS (Elfa Music Studio), di bawah asuhan Elfa Secioria.
Andien merupakan salah seorang generasi muda penyanyi jazz wanita Indonesia. Memenangkan berbagai kompetisi menyanyi sejak usia 14 tahun di Indonesia dan Shanghai, dia merilis album pertamanya pada usia 15 tahun, dengan album Bisikan Hati yang diproduseri oleh Elfa Secioria. Setelah menyeruak dunia musik Indonesia pada saat itu, ia kemudian kembali berkarya bersama Indra Lesmana dan Aksan Sjuman melalui album Kinanti pada tahun 2002. Seiring dengan perjalanan kariernya, penghargaan demi penghargaan diraih. Hingga kemudian Andien bekerjasama dengan Tohpati untuk album Gemintang pada tahun 2005. Sampai saat ini ia telah merilis empat album dan menerima penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) 5, 4 Indonesia Video penghargaan dan satu Planet Music Award di Singapura. Selama bertahun-tahun, ia telah berkolaborasi dengan berbagai musisi, seperti dengan Jeff Lorber pada Java Jazz Festival (JJF) 2005, dengan Jepang ansambel vokal Jammin Zeb (JJF 2008), dengan Bob James (ASEAN Jazz Festival 2008 Batam Indonesia), Frank Griffith (JJF 2010), serta dengan legenda piano jazz Indonesia Buby Chen (JJF 2010) dan pelopor Indonesia progressive rock band Discus (JJF 2006).
Andien selalu membuat album berdasarkan tahapan usia yang sedang ia jalani. Ia besar di ranah musik Indonesia, dan kita seolah melihat perkembangan dan perjalanannya dari waktu ke waktu hingga saat ini. Sebagai penyanyi jazz muda, ia sudah membuktikan banyak hal dengan keturutsertaannya berkolaborasi dengan musisi-musisi senior dari dalam maupun luar negeri. Dan kesetiaannya kepada warna musik itulah yang membuatnya selalu konsisten hingga saat ini.
Pada pertengahan tahun 2010, Andien kembali akan meluncurkan albumnya yang berjudul Kirana. Diambil dari salah satu judul lagu di album ini, Kirana, dalam bahasa sansekerta berarti cahaya atau sinar. Sekian lama melalui proses pembuatan dan perenungan, Andien menganggap album ini sebagai cerminan hati dan pikirannya. Berharap setiap denting melodi dan tuturan katanya dapat menjadi kirana bagi para pendengar musik tanah air. Pada album Kirana ini, tidak seperti di album-album sebelumnya, Andien memilih untuk bekerjasama dengan dua temannya, Nikita Dompas dan Rifka Rachman. Andien menganggap mereka adalah orang yang tepat di belakang layar pengerjaan album ini, karena selain berbakat, memiliki selera musik yang luar biasa, mereka juga merupakan teman Andien sejak kecil, sehingga benar-benar mengenal karakter Andien. Ini juga pertama kalinya Andien benar-benar terlibat langsung dalam produksi sebuah album. Mulai dari proses pemikiran, mencipta lagu, hingga mixing. Dan karena itu pulalah Andien memberanikan diri untuk banyak mengeksplorasi musik dan kemampuannya bernyanyi. Ia berkenalan dengan berbagai pengetahuan tentang musik dari proses ini. Jazzy and mature. Album Kirana ini adalah album yang sangat personal; melantun dari setiap sudut hati yang sarat makna.
Kirana banyak bercerita mengenai cinta dalam berbagai keadaan dan terinspirasi dari orang-orang terdekat Andien. Ada 10 lagu yang akan menuturkan segaris cerita. Tiga di antaranya merupakan lagu lama yang diremake, yakni Bimbi (The Rollies), Keraguan (Edwin Saladin), dan Gemilang (Krakatau). Di sini, Andien membawakan lagu-lagu tersebut dengan sangat segar dan berkarakter. Tujuh lagu lainnya juga turut mewarnai dan memberikan kita inspirasi dan rasa yang begitu dalam: Pulang, Salahku, Kusadari, Kirana, Moving On, Cerita Kita, dan Cinta.Andien telah merintis album perdananya pada februari 2000 yang berjudul "Bisikan Hati", album ini diperkirakan terjual sekitar 30.000 keping. Ayah Andien bernama Didiek Hariadi dan ibunya bernama Henny Sri Hardini. Andien adalah anak sulung dari 3 bersaudara.
Sekarang bersama dengan Rieka Roeslan, Nina Tamam, Iga Mawarni, dan Yuni Shara membentuk kelompok vokal beranggotakan lima orang dengan nama 5 Wanita.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Andien

Dira Sugandi: Jazz Indonesia Jadi Omongan Dunia


Dira Sugandi: Jazz Indonesia Jadi Omongan Dunia
Metro Corner | Kamis, 26 Januari 2012 12:26 WIB

NAMA Dira Sugandi tak asing lagi bagi pecinta musik jazz di Indonesia. Ia kerap tampil di berbagai ajang musik dalam negeri maupun internasional. Lalu bagaimana menurutnya soal perkembangan musik jazz di Indonesia?

"Perkembangan musik jazz di Indonesia sudah sangat menggembirakan. Kita lihat aja Java Jazz, yang dari tahun ke tahun pengunjungnya terus bertambah. Artis-artis yang didatangkan pun juga kalibernya udah legend,
kayak tahun ini salah satu bintangnya adalah Stevie Wonder," kata Dira saat ditemui www.metrotvnews.com di sela-sela acara 8-11 Show Metro TV.

Bahkan, tambahnya, market jazz di Indonesia telah menjadi omongan bagi industri musik dunia. Musisi jazz kaliber dunia pun mengakui antusiasme masyarakat Indonesia terhadap aliran musik tersebut. Tak jarang banyak musisi jazz internasional kaget melihat antusiasme masyarakat pecinta musik di Indonesia.

Begitu pula dengan musisi-musisi yang mengembangkan kemampuan dan ketertarikannya pada jazz. Dunia internasional juga mengakui kepiawaian musisi jazz Indonesia dan mengundang mereka.

Rusia, kata Dira, merupakan negara yang sering mengundang musisi jazz Indonesia untuk tampil di publik. Dira Sugandi pernah tampil di ajang Petrojazz Festival di St Petersburg, Rusia. Ia tak sendiri. Masih ada sederet nama musisi jazz Indonesia dalam ajang tahunan tersebut.

Dira Sugandi ingin berkontribusi lebih besar di dunia jazz di Indonesia dengan lebih banyak menggelar konser kecil-kecilan di berbagai kesempatan. "Saya selalu berusaha memperkenalkan jazz di Indonesia. Saya sering main di acara-acara kampus, di daerah-daerah dan
gak lihat bayarannya," ujar Dira.

Untuk Java Jazz tahun 2012, Dira sudah mempersiapkan berbagai hal yang akan mendukung penampilannya di ajang musik tahunan bergengsi itu. Sukses terus buat Dira Sugandi dan maju terus buat musik jazz tanah air.

Sumber: http://Dira-Sugandi-Jazz-Indonesia-Jadi-Omongan-Dunia.htm

Bubi Chen Sempat Dijuluki Pianis Jazz Terbaik Asia


Bubi Chen Sempat Dijuluki Pianis Jazz Terbaik Asia
TEMPO.CO, Semarang - Musisi jazz senior Bubi Chen meninggal pada usia 74 tahun di Rumah Sakit Telogorejo, Semarang, Kamis sekitar pukul 19.05 WIB. Menurut Juru Bicara Rumah Sakit Telogorejo Semarang Nana Noviada, Bubi Chen diduga meninggal karena penyakit diabetes mellitus sejak beberapa tahun terakhir.

Bubi dikenal sebagai maestro jazz Indonesia. Pada 1967, majalah musik terkemuka,
Down Beat, menyebut Bubi alias Suprawoto, ''Pianis jazz terbaik di Asia.''

Untuk menjadi pemusik jazz, Bubi harus mulai dengan sebuah ''pemberontakan'', ketika usianya baru 13 tahun. Suatu sore, pada 1951, ia kepergok guru musiknya, Jozef Bodmer (berkebangsaan Swiss), tengah memainkan sebuah aransemen jazz dengan pianonya. Padahal, Bubi dididik menekuni musik klasik.

Sang guru mula-mula terperanjat, tetapi akhirnya tersenyum. Dua tahun sesudah itu, Bodmer justru menyarankan pada Buby supaya terus menekuni jazz. ''Saya tahu, itulah duniamu yang sebenarnya,'' kata sang guru, seperti kemudian Bubi kepada Tempo pada 1982.

Puluhan tahun kemudian, semua pihak setuju bahwa anak bungsu dari delapan bersaudara Tan Khing Hoo -- pemain biola yang mahir -- ini ikut andil dalam perkembangan sejarah jazz di Indonesia.

Mengapa jazz? ''Improvisasinya lebih kaya, tidak seperti musik klasik yang terikat oleh berbagai aturan. Dan pemain jazz tidak selalu harus tunduk pada komposer,'' jawab Bubi pada 1982. Kecuali itu, ''Sejak kecil lingkungan saya jazz.'' Kakak-kakaknya, di tahun 1940-an, sudah sering memainkan jazz di rumah -- secara sembunyi-sembunyi.

Ketika masih buta huruf, oleh ayahnya Bubi dikursuskan pada Di Lucia, guru piano asal Italia yang, dengan caranya sendiri, sanggup membuat Bubi mampu membaca not balok. ''Saya kagum pada lelaki itu,'' kata Bubi. Istilah-istilah ilmiah dunia jazz didapatkan Buby melalui kursus tertulis 1955-1957 pada Wesco School of Music di New York -- dengan guru antara lain Tedy Wilson, murid salah seorang dewa jazz Benny Goodman.

Lalu, adakah jazz Indonesia? Jawabnya, ''Jazz Indonesia pasti bisa ada, kalau kita mau memperhatikan kebudayaan sendiri. Sense of culture harus dipunyai setiap pemusik. Berangkat dari sini, kita akan melihat jazz Indonesia.''

Bubi sering main tanpa bayaran. Ia memang benci pada komersialisasi musik. ''Penghayatan seni melalui uang artinya kejahatan, kriminal,'' kata aktivis kelompok pemain jazz The Indonesia All Star ini.

Waktu kecil, ''Saya ingin menjadi insinyur atau arsitek,'' tuturnya. Sampai terakhir, ia masih punya hobi pada fotografi dan elektronika. Bubi juga membuat replika beberapa model pesawat terbang, suatu kegiatan yang, menurut seorang psikolog, tidak boleh ia lepaskan. ''Karena waktu muda saya tidak sabaran, ingin selalu cepat selesai, dan rapi,'' katanya. Toh, di belakang hari, ia bisa memimpin Bubi Chen & Circle Jazz 5080.

Buby menikah dengan Anne Chiang, 1963, di Surabaya, dan kini ayah empat anak.



Dira Sugandi Ingin Buat Tribute Penyanyi Jazz Wanita


Dira Sugandi Ingin Buat Tribute Penyanyi Jazz Wanita
Dira Sugandi Ingin Buat Tribute Penyanyi Jazz Wanita
Sepanjang karirnya, ada satu impian yang ingin diwujudkan oleh Dira Sugandi. Dia ingin membuat tribute khusus untuk penyanyi jazz wanita yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
"Sudah lama aku pengen tribute to lady jazz yang populerkan lagu-lagu jazz seperti Billie Holiday, Etta James yang baru saja meninggal, dan Elis Regina," paparnya.
Dira mengaku sangat mengagumi penyanyi jazz wanita. Menurutnya penyanyi jazz wanita memiliki kelebihan dalam membawakan suasana kepada penonton.
"Kelebihan penyanyi jazz cewek itu mereka punya cara untuk membuat orang kebawa banget suasananya. Saya ingin membawa pengalaman itu saat tampil nanti," ujarnya saat dijumpai di Qi Lounge Hotel Sultan, Senayan, Jakarta Pusat beberapa waktu yang lalu.
Banyak orang beranggapan bahwa penyanyi jazz berkulit hitam karakter vokalnya lebih bagus dibandingkan penyanyi jazz berkulit putih. Namun bagi Dira semuanya sama bagusnya dan memilki karakter masing-masing.
"Buat saya mereka (yang berkulit putih dan berkulit hitam) sama hebatnya," tukasya.

Sumber: http://id.omg.yahoo.com/news/dira-sugandi-ingin-buat-tribute-penyanyi-jazz-wanita-102300887.html

Asean Jazz Festival digelar Juni di Batam


Asean Jazz Festival digelar Juni di Batam


Batam (ANTARA News) - Sebanyak 10 musisi jazz mancanegara akan tampil di Asean Jazz Festival yang digelar di Terminal Feri Harbour Bay, Batam, 22-23 Juni 2012.

Asean Jazz Festival merupakan agenda rutin wisata di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau.

Director of Art Asean Jazz Festival, Dwiki Dharmawan mengatakan 10 musisi jazz itu adalah Erik Hargrove asal Amerika, Nathasa Pattamapongs dan Arnat Lamwongsrikul asal Thailand, Jerry De Leon asal Philipina, Steve Thornton asal Malaysia, Jeremy Tordjman dari Francis, Kamal Musallam dari Emirat Arab (UEA), Carlos Kamil dari Bogota Kolombia serta Ian Iron dari Inggris Raya.

"Sebenarnya masih banyak musisi mancanegara yang ingin ikut serta, namun waktu dan tempat kami terbatas," kata Dwiki.

Selain mereka, artis Indonesia seperti Tri Utami, Barry Likumahua dan Andien juga direncanakan meramaikan pagelaran tahunan di Batam itu.

"Sejumlah jazzer Indonesia akan berkolaborasi dengan jazzer asing," kata Dwiki.

Asean Jazz Festival yang kelima juga akan menampilkan berbagai musik daerah yang dikemas dalam balutan jazz.

Dari Jawa Barat, Dwiki mencoba mengawinkan angklung dengan jazz. Dari Minang, akan hadir alat musik tradisional yang membaur rasa jazz.

Selain itu, Dwiki juga mencoba mengawinkan musik khas Melayu Kepri, yaitu kompang dalam Rentak Melayu.

"Asean Jazz ini yang ke lima ini merupakan karya kreatif yang menggabungkan musik Indonesia dengan manca negara," kata Dwiki.

Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Batam Yusfa Hendri berharap Asean Jazz Festival mampu menarik dan meningkatkan wisatawan asal Malaysia dan Singapura yang masuk Batam dan Kepri.


Sumber: http://www.antaranews.com/berita/307396/asean-jazz-festival-digelar-juni-di-batam