Keroncong
Tugu dahulu sering disebut Cafrinho Tugu. Orang-orang keturunan
Portugis (mestizo) telah memainkan musik ini sejak 1661. Pengaruh
Portugis dapat diketahui dari jenis irama lagunya. Misalnya moresko,
frounga, kafrinyo, dan nina bobo. Keroncong Tugu tidak jauh beda
dengan keroncong pada umumnya. Tapi juga bukan sama persis. Keroncong
Tugu berirama lebih cepat. Irama yang lebih cepat ini disebabkan oleh
suara ukulele yang memainkannya digaruk seluruh senanrnya. Sementara
keroncong Solo atau Yogya berirama lebih lambat.
Keroncong
Tugu pada mulanya dimainkan oleh 3 atau 4 orang. Alat musiknya hanya
3 buah gitar, yaitu: gitar Frounga yang berukuran besar dengan 4
dawai, gitar Monica berukuran sedang dengan 3-4 dawai, dan gitar
Jitera yang berukuran keci dengan 5 dawai. Selanjutnya alat musik
Keroncong Tugu ditambah dengan suling, biola, rebana, mandolin,
cello, kempul, dan triangle. Dulu keroncong ini sering membawakan
lagu berirama melankolis, diperluas dengan irama pantun, irama
stambul, irama Melayu, langgam keroncong, dan langgam Jawa. Syair
lagu-lagunya kebanyakan masih menggunakan bahasa Portugis, yang cara
pengucapannya sudah terpengaruh dialek Betawi Kampung Tugu.
Keroncong
Tugu masih sering pentas pada berbagai tempat dan kesempatan. Di atas
pentas para pemainnya selalu berpenampilan khas: yang laki-laki
mengenakan baju koko putih, celana batik, dan tutup kepala semacam
baret. Mereka juga selalu memakai semacam syal yang melingkari leher.
Sementara yang perempuan memakai kebaya. Tokoh keroncong Tugu saat
ini adalah Samuel Quicko dan Fernando yang memimpin “Moresko
Toegoe” di Kampung Tugu, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Mereka
berdua dibantu oleh saudara-saudara mereka, Ester dan Bernado.
Sebelumnya ada orang tua mereka: Oma Kristin (Christine) dan opa Eddy
Wasch yang pernah memperoleh penghargaan Gubernur DKI Jakarta Ali
Sadikin pada 1976.
No comments:
Post a Comment