Friday, April 27, 2012

Cantamus Mengangkat Perbedaan


Hari Jumat (26/2), Goethe Haus kembali kedatangan sebuah pertunjukan konser paduan suara. Kali ini paduan suara Cantamus Dei yang menjadi bintang di panggung profesional ini.

Paduan suara ini sendiri berasal dari sebuah gereja di bilangan Jakarta Barat dan diawaki oleh anggota-anggota jemaat muda di daerah Kedoya. Konser ini sendiri bertajuk Theefferences yang merujuk pada konsep konser malam itu yang mengambil karya-karya sakral dan juga musik-musik daerah.
Konser pun berlangsung dengan cukup meriah, penuh warna dan kejutan-kejutan terutama di bagian kedua ketika paduan suara membawakan lagu-lagu daerah. Cantemus Dei yang dipimpin oleh Nita Pambudi pun terlihat cukup siap dan percaya diri ketika membawakan karya-karya yang mereka pilih, bukti bahwa paduan suara yang telah berusia 6 tahun ini telah mempersiapkan diri secara matang. Pun, Goethe Haus penuh dengan penonton.
Karya-karya yang dipilih pun cukup menarik mencakup musik gereja dari berbagai era. Namun dari segi musik, di konser kedua ini nampaknya memang teknik anggota masih membatasi penampilan. Musik pun menjadi terbatas terutama dalam penggalian maknanya dikarenakan keterbatasan kemampuan mereka untuk mengoptimalkan modal suara yang mereka miliki.
http://mikebm.files.wordpress.com/2010/03/cantamus2.jpg?w=300&h=200Seringkali terlihat beberapa anggota mengerti secara musikal suara seperti apa yang harus mereka keluarkan, namun sayangnya belum dapat mereka produksi secara akurat sehingga terkadang menghambat penyampaian interpretasi, terutama pada karya-karya sakra yang dibawakan.
Sedang lagu-lagu daerah dikemas dengan menarik diperlengkapi dengan koreografi gerak anggota paduan suara. Pun kostum pun dikemas dengan menarik penuh warna. Intonasi juga tidak menjadi suatu isu yang besar di kategori ini. Disiplin penyanyi cukup terjaga walaupun sempat terdengar kehilangan arah kalimat di beberapa tempat. Malam ini, paduan suara juga mengetengahkan beberapa instrumentalis, salah satunya Dionisius Clyde dan Sebastian Aliwarga.
Tapi tentunya harus kita beri acungan jempol bahwa ada paduan suara muda berbasis gereja yang berani untuk tampil di luar, terlebih di sebuah pentas profesional. Meskipun demikian memang butuh waktu untuk bisa berkembang lebih jauh karena paduan suara adalah komunitas yang dinamis yang harus terus dipacu untuk berkembang. Dan tentunya tidak bisa satu dua malam saja.
http://mikebm.files.wordpress.com/2010/03/cantamus3.jpg?w=300&h=200

            Grup band gereja Cantemus Dei berhasil melakukan konser yang bertema religius (Kristiani) kedaerahan. Di dalam konser tersebut, Cantemus berhasil memadukan konsep nilai-nilai religius dengan nilai-nilai kebudayaan daerah. Lagu-lagu Kristiani berasal dari berbagai macam era dan lagu-lagu daerah yang dibawakan dilengkapi dengan tarian daerahnya. Kelompok paduan suara ini mendobrak kenyataan untuk tampil di luar lingkup gereja, yaitu pada suatu pentas. Kelompok paduan suara ini patut diacungi jempol karena mereka peduli terhadap semakin pudarnya budaya daerah di kalangan masyarakat sehingga diperlukan suatu cara untuk dapat mensosialisaikan sebuah pendapat/argumen. Kepedulian mereka tersebut ditujukan kepada kita, para generasi muda untuk melanjutkan tugas mereka menjaga dan merawat lingkungan sekitar.


No comments:

Post a Comment